Bojonegoro, jawakini.com – siang itu di hari Sabtu 18 Oktober 2025 Di lintasan mulus yang mengilap itu, deru roda beradu dengan ambisi. Anak-anak berseragam lengkap, helm mengkilap, pelindung lutut, sepatu bermerk — semua tampak seperti parade kecil gaya hidup kaum mapan, bukan sekadar latihan olahraga.
Sepatu roda kini jadi tren baru di Bojonegoro. Setiap akhir pekan, lintasan khusus diisi oleh anak-anak yang rutin berlatih demi ajang bergengsi. Tapi di balik semangat itu, publik mulai berbisik sinis:
apakah ini benar olahraga prestasi, atau hanya arena pamer status sosial terselubung di balik roda berputar?
Biaya latihan, perlengkapan, dan event yang tidak murah menjadikan olahraga ini tampak eksklusif.
Yang bisa ikut—ya mereka yang orang tuanya punya cukup “roda” uang untuk memutar ambisi.
Yang tak mampu, cukup menonton dari pagar, melihat sebaya mereka meluncur di atas aspal dan impian.
“Bagus sih, anak-anak berprestasi. Tapi prestasi macam apa kalau yang lain tak bisa ikut berlomba karena kalah modal?” celetuk seorang warga yang menyaksikan dari kejauhan.
Ironisnya, di tengah jargon pemerataan dan pembinaan olahraga daerah, lintasan sepatu roda justru mencerminkan ketimpangan paling halus — olahraga yang katanya membangun karakter, tapi diam-diam mengajarkan bahwa keberanian berawal dari isi dompet.
Pemerintah daerah, lewat Dinas Pemuda dan Olahraga, tampak antusias memamerkan geliat olahraga ini, namun lupa satu hal: prestasi sejati bukan diukur dari harga sepatu, melainkan dari kesempatan yang setara.
Sepatu roda memang berbahaya — bukan hanya karena potensi jatuh di lintasan, tapi juga karena bisa membuat kita tergelincir pada ilusi prestasi yang elitis.(Red)












