BOJONEGORO,Jawakini.com – Kawasan Kokobo Dander Forest kini tengah bersiap memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan di Bojonegoro. Melalui kolaborasi strategis penanaman bibit alpukat, kawasan ini diproyeksikan tidak hanya menjadi paru-paru daerah, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis agrowisata dan edukasi.
Langkah ini menjadi babak baru bagi Kokobo. Pemilihan bibit alpukat sebagai komoditas utama bukan tanpa alasan; tanaman ini dinilai mampu menjalankan fungsi ganda, yakni menjaga konservasi sumber mata air sekaligus memberikan nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat sekitar yang terlibat di dalam kawasan.
Perwakilan komunitas Kokobo, Lilik Budi Witoyo, menegaskan bahwa potensi kawasan ini sangat besar untuk dikembangkan lebih jauh. Menurutnya, daya tarik Kokobo tidak hanya terbatas pada satu komoditas.
”Kawasan Kokobo Dander Forest memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi agrowisata. Selain alpukat yang baru saja ditanam, kami telah sukses mengembangkan empat varietas kopi, yaitu Robusta, Arabika, Liberika, dan Excelsa,” ungkap Lilik.
Kehadiran varietas kopi yang sudah mulai berproduksi tersebut menjadi bukti nyata bahwa ekosistem di Kokobo sangat mendukung untuk pengembangan budidaya tanaman bernilai tinggi. Hal ini diharapkan menjadi magnet bagi pengunjung yang ingin menikmati wisata alam sekaligus belajar tentang diversitas tanaman pangan.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) serta Perhutani, semakin memperkuat optimisme bahwa Kokobo akan menjadi model sukses pengelolaan lahan hutan yang produktif. Fokus utama ke depan adalah memastikan seluruh proses budidaya berjalan optimal agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan sinergi yang terus terbangun, Kokobo Dander Forest kini bukan sekadar hamparan hutan, melainkan episentrum agrowisata masa depan yang menyinergikan kelestarian alam dengan kemandirian ekonomi.(BG)












