Foto : ilustrasi
BOJONEGORO,Jawakini.com – Ambisi Pemerintah Desa Klino dalam menuntaskan proyek Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) kini terganjal persoalan pelik. Bukan sekadar progres fisik yang merayap di angka 45 persen, proyek ini mulai memercikkan aroma tak sedap terkait transparansi manajemen tenaga kerja dan pemenuhan hak upah pekerja.
Di balik tumpukan material yang belum sepenuhnya terpasang, terselip keluh kesah para pekerja yang mengaku belum mengecap keringat hasil jerih payah mereka.
Arif (35), salah satu pekerja asal Ngumpak Dalem, membeberkan fakta pahit. Sepekan menguras tenaga di lapangan dengan janji upah harian Rp130.000 plus tambahan lembur yang seharusnya mencapai Rp260.000 per hari, hingga kini ia hanya membawa pulang janji kosong.
“Tidak hanya saya, teman saya juga. Bedanya dia Rp110 ribu per hari, tapi sama-sama lembur yang seharusnya dihitung dobel. Sampai sekarang hak kami belum diberikan,” ungkap Arif dengan nada kecewa.
Ironisnya lagi, saat persoalan ini dikonfirmasi kepada pemegang kebijakan tertinggi di desa, respons yang muncul justru terkesan dingin dan lepas tangan. Kepala Desa Klino, Dwi Nur Jayanti, secara singkat mengaku tidak mengenali para pekerja yang mengadu tersebut.
Ketidaksinkronan data semakin mencolok saat Mardian, sosok yang mengaku sebagai penyuplai tenaga kerja, memberikan pembelaan. Meski mengklaim seluruh upah telah dibayarkan, Mardian justru tampak “gagap” saat diminta merinci detail administratif pekerjaan.
Munculnya perbedaan keterangan yang mencolok antara pihak desa, penyuplai, dan pekerja di lapangan memicu tanda tanya besar: Ke mana aliran dana upah tersebut bermuara?
Proyek BKKD yang sejatinya bertujuan untuk akselerasi pembangunan desa, kini justru menyisakan residu masalah sosial. Jika progres fisik yang baru 45 persen saja sudah dibarengi dengan sengkarut upah buruh, publik patut mempertanyakan efektivitas pengawasan dan kredibilitas pengelolaan proyek yang menggunakan dana negara ini.
Kini, bola panas ada di tangan otoritas terkait. Masyarakat menanti, apakah kejelasan akan segera hadir atau justru terkubur di balik bantahan demi bantahan yang tidak konsisten.(Red)












