Foto:ilustrasi
BOJONEGORO,Jawakini.com— Keheningan tata kelola anggaran di Kabupaten Bojonegoro tampaknya mulai terusik. Sorotan tajam kini tertuju pada program Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Bojonegoro yang diduga kuat tengah masuk dalam radar pengawasan serius Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Isu mengenai adanya aroma tidak sedap dalam pembagian kue anggaran ini kini tidak lagi sekadar menjadi konsumsi lokal, melainkan telah bergeser menjadi perhatian di tingkat nasional.
Menanti Nyali KPK di Pusaran Pokir
Langkah KPK yang disebut-sebut mulai “turun gunung” untuk mendalami realisasi Pokir di Bojonegoro menjadi sinyalemen kuat bahwa ada hal yang tidak beres dalam proses perencanaan hingga eksekusi anggaran. Istilah “bancakan”—yang identik dengan bagi-bagi jatah secara tidak transparan—kini membayangi jalannya roda pemerintahan daerah.
Upaya penegakan hukum ini dinilai banyak pihak sebagai langkah krusial untuk mengurai benang kusut yang selama ini kerap menjadi celah terjadinya praktik kongkalikong antara oknum legislatif dan pemangku kebijakan.
Warning Keras Bagi Rekanan dan Kontraktor
Dampak dari pengawasan ketat ini tidak hanya berhenti di kursi empuk para legislator. Warning keras kini bertiup kencang ke arah para rekanan dan kontraktor proyek. Selama ini, sektor pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari dana aspirasi atau Pokir kerap menjadi titik paling rawan korupsi.
Keterlibatan pihak ketiga yang terbukti melakukan “main mata” atau bersengkongkol dalam memanipulasi proyek Pokir, secara hukum dapat menyeret mereka langsung ke balik jeruji besi (bui). Pasal-pasal tindak pidana korupsi siap menanti siapa saja yang nekat mencederai uang rakyat.
Transparansi atau Jeruji Besi?
Publik Bojonegoro kini menunggu sejauh mana KPK akan menguliti dugaan penyimpangan ini. Apakah pengawasan ini akan berujung pada pembenahan sistemik, atau justru menjadi babak baru yang akan menyeret sejumlah nama besar ke pengadilan?
Satu hal yang pasti,genderang perang terhadap penyelewengan anggaran telah ditabuh, dan bagi mereka yang bermain di area abu-abu, waktu untuk bersembunyi tampaknya sudah habis.(red)
Sugeng handoyo sakti,aktivis pengamat publik dari desa ringin tungal bojonegoro












