Bojonegoro.Jawakini.com –Setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda, kita diingatkan tentang pentingnya persatuan. Jauh sebelum ikrar monumental 1928, benih-benih persatuan pemuda di Nusantara telah ditanam oleh tokoh-tokoh visioner. Salah satunya adalah Masdan, yang kelak dikenal sebagai Ki Ngabehi Eyang Suro Dwiryo, pendiri organisasi pencak silat legendaris, Setia Hati (SH).
Sejak tahun 1903 di Surabaya, dengan mendirikan perkumpulan bernama STK (Sedulur Tinggal Kecer), yang kemudian berkembang menjadi Persaudaraan Setia Hati, Masdan muda sudah memainkan peran sentral dalam mengumpulkan dan mendidik generasi muda. Tujuannya jelas: membentuk pemuda yang bermental kuat, berakhlak mulia (budi pekerti luhur), dan memiliki kemampuan bela diri, sebagai bekal untuk masa depan bangsa, bahkan sebagai kekuatan tersembunyi melawan penjajah Belanda.
Ajaran Setia Hati tidak hanya mengajarkan teknik pencak silat, melainkan juga menanamkan nilai-nilai luhur persaudaraan dan kerukunan. Dari ajaran inilah lahir banyak pejuang dan tokoh pergerakan yang turut menggerakkan semangat kebangsaan dan persatuan pemuda di masa itu.
Pesan abadi dari Ki Ngabehi Eyang Suro Dwiryo sebelum wafat, “Jika saya sudah pulang ke Rahmatullah supaya saudara-saudara SETIA-HATI tetap bersatu hati, tetap rukun lahir bathin” dan “Saudara Setia Hati harus bersatu padu dan hidup guyub rukun”, menegaskan bahwa persatuan dan kerukunan adalah pondasi utama, baik dalam persaudaraan maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, di tengah perkembangan zaman, ajaran luhur ini menghadapi tantangan. Meskipun nama Setia Hati tetap dipegang, perbedaan kepemimpinan, nama, dan lambang telah memicu gesekan di antara oknum di bawah, bahkan hingga merugikan masyarakat. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pemimpin trah SH untuk memastikan nilai-nilai persaudaraan yang diwariskan oleh Eyang Suro Dwiryo tetap menjadi teladan, bukan sumber perpecahan.
Di Hari Sumpah Pemuda 2025 ini, warisan Eyang Suro harus kita refleksikan. Kemampuan beliau mempersatukan pemuda di awal abad ke-20 demi kebaikan dan perjuangan melawan penjajah harusnya menjadi spirit bagi semua penerus SH. Perbedaan seharusnya menjadi kekuatan kolosal untuk membangun bangsa, menciptakan kebersamaan, kerukunan, dan menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat (Harkamtibmas).
Mari kita jadikan ajaran “bersatu hati” dan “guyub rukun” sebagai kompas moral. Para pemuda, khususnya pegiat pencak silat di Indonesia, diajak untuk menjadi pelopor persatuan, meneruskan cita-cita luhur pendiri SH agar Persaudaraan Setia Hati, yang berawal dari STK, benar-benar menjadi lautan persaudaraan.
SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA 2025! Terus kobarkan semangat persatuan, wujudkan kerukunan, dan jadilah generasi penerus yang berbakti pada nusa dan bangsa.
Ditulis oleh Sasmito Anggoro, Ketua Cabang PSHW Bojonegoro, Wakil Ketua IPSI Kabupaten Bojonegoro, Sekretaris Paguyuban Bojonegoro Kampung Pesilat, Wartawan Aktif, Pengurus Organisasi Pers/Media, dan Pengawas Karimon (Lembaga Eks Napi Teroris) di Bojonegoro.












