foto:ilustrasi
BOJONEGORO,Jawakini.com – Sikap bungkam yang dipertontonkan Polres Bojonegoro dalam membongkar kasus dugaan aborsi yang melibatkan tiga oknum perawat memicu kegaduhan publik. Hingga Kamis (25/6/2026), korps baju cokelat tersebut terkesan menutup rapat-rapat perkembangan penyidikan, seolah sengaja membiarkan kasus krusial ini menguap di ruang gelap.
Berdasarkan investigasi dan informasi yang dihimpun tim redaksi, beredar rumor menyengat mengenai adanya “gerakan bawah tangan” yang mendesak Kapolres Bojonegoro untuk menghentikan perkara (SP3). Meski kabar burung ini belum diamini secara resmi, sikap kepolisian yang mendadak irit bicara justru memperkuat spekulasi adanya upaya main mata di balik layar.
Kritik pedas langsung dihantamkan oleh Ketua LSM Angling Dharma, M. Nasir. Ia menegaskan bahwa blunder komunikasi yang dilakukan Polres Bojonegoro ini mengindikasikan adanya sesuatu yang tidak beres.
”Apalagi ini menyangkut nama besar salah satu rumah sakit ternama di Bojonegoro. Kalau bersih, kenapa harus risih dan sembunyi-sembunyi? Publik berhak tahu!” cecar Nasir dengan nada tinggi.
Nasir memperingatkan, jika Polres Bojonegoro terus memelihara tradisi “senyap” ini, jangan salahkan masyarakat jika muncul persepsi bahwa hukum di Bojonegoro bisa dinegosiasikan.
”Kenapa Polres menutupi? Publik berhak mengetahui sejauh mana proses hukumnya berjalan. Jangan sampai ada kesan hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas karena melibatkan institusi besar!” tegas Nasir.
Kecurigaan publik kian menebal setelah Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bojonegoro, Sukir, menunjukkan reaksi emosional dan reaktif saat dicecar pertanyaan oleh awak media mengenai keterlibatan anggotanya. Sikap defensif dari organisasi profesi ini dinilai memperkeruh suasana, alih-alih mendukung penegakan etika medis.
Hingga berita ini diturunkan, Kapolres Bojonegoro maupun Kasat Reskrim belum memberikan keterangan resmi, tidak ada kepastian status hukum para terlapor yang kabarnya sempat diamankan.
Publik kini menunggu, Apakah Polres Bojonegoro berani bertindak transparan dan profesional, ataukah kasus aborsi yang mencoreng dunia medis ini akan berakhir damai di bawah meja? (Red)












