foto : ilustrasi
BOJONEGORO, Jawakini.com — Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk menyulap Pasar Kota Bojonegoro menjadi pasar modern yang representatif menuai kritik tajam dari kalangan pedagang dan pengamat ekonomi daerah. Meski pemerintah mengklaim proyek ini demi kenyamanan bersama dan memajukan roda perekonomian, realitas di lapangan dinilai berbanding terbalik.
Kebijakan relokasi sementara para pedagang ke Pasar Wisata Bojonegoro dianggap sebagai langkah tergesa-gesa yang merugikan. Banyak pedagang mengeluhkan penurunan omzet secara drastis sejak dipindahkan dari lokasi lama.
Sejumlah pedagang pasar yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa kondisi Pasar Wisata Bojonegoro belum sepenuhnya siap untuk menampung seluruh aktivitas perdagangan. Akses lokasi yang dinilai kurang strategis bagi pelanggan setia membuat omzet harian mereka meluncur bebas.
”Pemerintah bilangnya ini demi kebaikan pedagang, tapi kenyataannya jualan di tempat relokasi sangat sepi. Pembeli malas datang karena aksesnya tidak seperti Pasar Kota yang dulu. Kalau begini terus, kami bisa bangkrut sebelum pasar baru selesai dibangun,” ujar salah satu pedagang konveksi.(24/7/2026)
Tak hanya soal penurunan omzet, persoalan operasional dan kelengkapan fasilitas di tempat penampungan sementara juga dikeluhkan. Janji fasilitas yang memadai dinilai belum terealisasi secara optimal, sehingga menciptakan ketidakpastian bagi keberlangsungan usaha warga kecil.
Di sisi lain, narasi pemerintah yang ingin mengubah Pasar Kota menjadi bangunan modern dinilai berpotensi menghilangkan karakteristik dasar dari pasar rakyat/tradisional. Interaksi tawar-menawar dan kehangatan khas pasar tradisional dikhawatirkan tergerus oleh konsep bangunan modern yang cenderung kaku.
Pengamat kebijakan publik daerah Sugeng Handoyo menilai bahwa proyek fisik skala besar ini kurang melibatkan partisipasi dan dialog terbuka dengan para pedagang sejak awal perencanaan.
Ada 4 Poin Kunci Gelombang Protes Pedagang:
- Penurunan Omzet: Relokasi sementara ke Pasar Wisata membuat daya beli dan kunjungan konsumen merosot tajam.
- Kesiapan Fasilitas: Infrastruktur penampungan sementara dinilai belum siap dan kurang mendukung kenyamanan bertransaksi.
- Kehilangan Pelanggan: Akses lokasi baru membuat pelanggan lama enggan datang.
- Ancaman Identitas: Konsep “modernisasi” dikhawatirkan menyingkirkan pedagang kecil dan menaikkan beban operasional di masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, para pedagang berharap Pemkab Bojonegoro tidak sekadar memberikan janji manis melalui sosialisasi, melainkan segera mengambil langkah konkret untuk mengevaluasi dampak relokasi serta memberikan solusi atas merosotnya pendapatan mereka.(red/jwk)










