Desa  

Manisnya Semangka, Manisnya Harapan, MBG dan Nasib Petani Bojonegoro

Bojonegoro, Jawa kini.com – Negeri ini sedang menanak harapan dalam periuk besar bernama Makan Bergizi Gratis (MBG). Api semangat program ini bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan menegakkan keadilan gizi di meja rakyat kecil.

Namun, di tengah niat baik itu, MBG kerap disiram hujan opini miring. Isu keracunan berembus bagai angin tak jelas arah. Benarkah dari dapur MBG, atau hanya bumbu politik yang ditebarkan? Pertanyaan itu masih menggantung.

Di pelosok desa, cerita lain justru menguat. Rohman, petani Kedungadem, sempat pasrah ketika semangkanya terancam busuk karena tak laku di pasar. Tengkulak enggan membeli, harga anjlok. Harapannya hidup kembali ketika dapur MBG membeli hasil panennya dengan harga standar.

Kisah serupa dialami Khoirul Anam, petani Desa Pomahan. “Kalau panen raya, harga semangka bisa jatuh. Kadang tidak ada tengkulak yang mau ambil. Tapi kini, MBG membeli hasil panen saya dengan harga pantas. Alhamdulillah, panen kali ini terasa manis,” ujarnya penuh syukur.

Bagi Khoirul, MBG bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah jembatan yang menghubungkan keringat petani desa dengan masa depan generasi muda. Semangka yang dulu dibiarkan membusuk, kini tersaji di meja makan anak-anak sekolah.

Jelaslah, MBG bukan malaikat tanpa cela, tapi juga bukan setan seperti dituduhkan. Ia adalah perahu kecil di tengah badai kesenjangan—memberi penyelamat bagi petani, memberi gizi bagi anak bangsa.

Lebih jauh, cerita manis juga datang dari pelaku usaha kecil. Penyedia daging ayam skala retail, kini ikut mengais rezeki dengan memasok ke dapur MBG. Begitu pula UMKM produsen tahu dan tempe, yang sebelumnya kesulitan memperluas pasar, kini mendapat pelanggan baru yang stabil.

Semangka itu manis. Tetapi lebih manis lagi ketika ia menjadi saksi bahwa kerja keras petani dan pelaku usaha kecil desa kini berbuah harapan. MBG bukan hanya memberi gizi untuk anak bangsa, tetapi juga menumbuhkan denyut ekonomi rakyat bawah yang kerap terpinggirkan.(BG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *