Petani Resah Akibat Penghentian Total Air Irigasi, Proyek Rp 103 Miliar DI Pacal Terancam Gagal Tanam

Bojonegoro, Jawakini.com – Proyek rehabilitasi jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Pacal dan pemasangan plengsengan tanggul sepanjang aliran Waduk Pacal hingga Dam Mekures telah menimbulkan keresahan di kalangan petani. Penghentian total suplai air irigasi hingga akhir Desember 2025 dikhawatirkan mengancam gagal tanam bagi petani di Desa Penganten (Kecamatan Balen) dan Desa Ngampal (Kecamatan Sumberjo).

Keresahan ini muncul di tengah upaya keras Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk menyelesaikan proyek besar tersebut. Proyek rehabilitasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi irigasi ini diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 103 miliar dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025.

Suntoro, seorang petani dari Desa Penganten, mengungkapkan kekhawatiran utamanya kepada Jawakini.com pada Kamis (27/11/2025).

Sejak adanya proyek di kali Pacal ini kita merasa khawatir. Kalau alirannya kering, kita tidak bisa tanam di musim ini. Kalau hanya mengandalkan hujan, pasti kita tidak bisa tanam,” ujar Suntoro, yang kekhawatirannya juga dirasakan oleh Darko, petani asal Desa Ngampal.

Menyikapi terhentinya air, para petani mengusulkan solusi operasional berupa sistem buka tutup aliran air Waduk Pacal. Mereka berharap sistem ini dapat mengakomodasi kepentingan petani yang harus segera memulai masa tanam, sekaligus memastikan proyek rehabilitasi tetap berjalan lancar.

Harapan kami, agar Waduk Pacal dan bendungan klepek dibuat sistem buka tutup supaya petani bisa tanam dan proyek bisa berjalan. Kalau ditutup seperti ini, kami para petani yang kebingungan,” tutur kedua perwakilan petani tersebut.

Terkait kebijakan penghentian air, Budi, selaku Mantri Air, membenarkan bahwa pelayanan air memang dihentikan berdasarkan kesepakatan gabungan petani.

Maaf, kemarin sudah buat pernyataan bersama 10 gabungan HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air) bahwa tidak ada pelayanan air dari Bendung Klepek sampai akhir Desember 2025,” jelas Budi melalui pesan singkat WhatsApp.

Mengenai usulan petani untuk sistem buka tutup, Budi mengakui bahwa pihaknya telah mengupayakan solusi tersebut. Namun, kebijakan tersebut terbentur keputusan dari pelaksana teknis proyek.

Kita petugas mengusahakan buka tutup Pak, cuman pihak pelaksana proyek tidak mau. Mintanya tidak ada air sampai akhir Desember,” tambahnya, menegaskan bahwa keputusan penghentian total air merupakan permintaan dari pelaksana proyek.

Situasi ini menempatkan petani dalam posisi sulit. Meskipun proyek rehabilitasi senilai Rp 103 miliar ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan jangka panjang, keputusan penghentian total air oleh pelaksana proyek kini mengancam gagal tanam di musim ini. Petani kini hanya bisa berharap adanya kebijakan segera dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, mengingat hingga berita ini ditulis, pihak penanggung jawab proyek belum memberikan respons mengenai solusi yang dapat menjembatani kepentingan proyek dan kebutuhan mendesak para petani.(Red)

Penulis: Agus Pudjianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *