BOJONEGORO,Jawakini.com– Senin pagi (12/1/2026), debu dan tumpukan material memenuhi Jalan Basuki Rahmat. Setelah sekian lama membiarkan urat nadi transportasi ini dalam kondisi “memprihatinkan”, Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur akhirnya menurunkan tim untuk melakukan perbaikan.
Pemandangan ini memicu tanya di tengah masyarakat: Haruskah sebuah jalan provinsi mencapai titik hancur total sebelum otoritas terkait merasa perlu bertindak?
Selama ini, Jalan Basuki Rahmat seolah menjadi kanvas bagi praktik tambal sulam yang tidak berumur panjang. Alih-alih memberikan kenyamanan permanen bagi warga Bojonegoro, skema perbaikan “setengah hati” tersebut justru terbukti gagal menghadapi beban kendaraan. Kini, pemandangan pekerja yang membongkar dasar jalan menunjukkan bahwa solusi temporer yang selama ini dilakukan hanyalah pemborosan waktu yang mahal.
Sebagai jalan di bawah wewenang Pemerintah Provinsi Jawa Timur, standar kualitas di Jalan Basuki Rahmat seharusnya mencerminkan kemajuan provinsi. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan keterlambatan respon yang harus dibayar mahal oleh para pengguna jalan melalui risiko kecelakaan dan kerusakan kendaraan.
“Statusnya jalan provinsi, tapi nasibnya seperti dianaktirikan. Kami sudah kenyang dengan jalan yang hanya dioles aspal tipis lalu hancur lagi dalam hitungan minggu,” celetuk seorang pengguna jalan yang harus memutar arah akibat pengerjaan tersebut.
Aktivitas alat berat dan tumpukan material yang terlihat hari ini adalah pembuktian yang ditunggu. Masyarakat Bojonegoro kini mengawasi: apakah Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur sedang membangun fondasi jalan yang benar-benar kokoh, ataukah ini hanya sekadar proyek rutin agar anggaran tidak mubazir, yang beberapa bulan lagi akan kembali berlubang?
Publik berhak mendapatkan lebih dari sekadar “tambalan” baru. Mereka menuntut kualitas yang sebanding dengan status “Jalan Provinsi” yang disandang jalur ini.
Kini, tumpukan material di Jalan Basuki Rahmat menjadi saksi bisu atas janji perbaikan. Masyarakat Bojonegoro tentu tidak butuh sekadar pemandangan pekerja di lapangan, melainkan jaminan bahwa aspal yang digelar Dinas Bina Marga Provinsi kali ini lebih tebal dari janji-janji sebelumnya. Jangan sampai, setelah proyek ini usai, warga kembali dipaksa akrab dengan lubang yang sama.(BG)












