BOJONEGORO,Jawakini.com – Ancaman kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino mulai disikapi dengan langkah nyata di tingkat akar rumput. Sejumlah kader PDI Perjuangan bersama kelompok tani di Desa Pancor, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, menggelar aksi tanam jagung serentak sebagai langkah mitigasi krisis pangan, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Bojonegoro, Abah Bambang (sapaan akrab Bambang Sutriyono). Bersama puluhan petani, ia turun ke lahan untuk menebar benih, menunjukkan semangat gotong royong di tengah ancaman kekeringan yang mulai membayangi wilayah tersebut.
Dorong Komoditas Alternatif
Bambang Sutriyono, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, menegaskan bahwa gerakan ini bertujuan untuk mengedukasi petani agar tidak hanya bergantung pada tanaman padi, terutama saat memasuki musim kering.
”Kita harus realistis dengan kondisi alam. Wilayah Temayang ini mayoritas tadah hujan, sehingga sangat rawan saat kemarau tiba. Menanam jagung atau palawija lainnya adalah solusi cerdas untuk menjaga ekonomi petani tetap berjalan,” ujar Bambang di sela-sela istirahat di gubuk sawah warga.
Ia menambahkan, optimalisasi lahan tidur atau lahan yang sulit air menjadi kunci ketahanan pangan daerah. Selain memberikan instruksi teknis, Bambang juga berdialog langsung dengan warga untuk menyerap aspirasi terkait kendala distribusi pupuk dan ketersediaan bibit unggul.
Peringatan Dini dan Mitigasi
Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait siklus cuaca tahun ini. Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, memprediksi musim kemarau akan mulai terasa pada akhir Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
Berdasarkan data pemetaan, terdapat sedikitnya 93 desa di Bojonegoro yang masuk dalam zona merah rawan kekeringan.
”Selain beralih ke tanaman alternatif, kami juga menghimbau masyarakat untuk lebih bijak mengelola sumber air yang ada. Pembuatan tandon atau embung kecil di lahan pertanian sangat disarankan sebelum debit air benar-benar menyusut,” imbuh Bambang.
Aksi tanam bersama ini diharapkan menjadi pemantik bagi wilayah lain di Bojonegoro untuk segera melakukan langkah serupa, guna memastikan stok pangan tetap aman meski cuaca ekstrem melanda.(red)












