BOJONEGORO,Jawakini.com – Transparansi dan kualitas pengerjaan proyek infrastruktur di tingkat desa kembali menjadi sorotan. Kali ini, proyek Pembangunan Jalan Rigid Beton Tahap 2 di Desa Besah, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, diduga kuat dikerjakan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
Berdasarkan papan informasi proyek, pembangunan jalan ini menelan anggaran fantastis mencapai Rp 1.174.472.726,- yang bersumber dari APBDes (Dana BKKD Tahun 2025). Dengan volume panjang 551 meter dan lebar 4 meter, proyek ini seharusnya menjadi urat nadi ekonomi baru bagi warga setempat.
Temuan Lapangan: Selisih Centimeter yang Krusial
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan pantauan awak media ditemukan indikasi pengurangan volume ketebalan beton secara sengaja.
Jika merujuk pada standar spesifikasi (spek) yang seharusnya mencapai 15 cm, hasil pengukuran acak di beberapa titik lokasi menunjukkan angka yang bervariasi namun cenderung menyusut, yakni hanya di kisaran 12 hingga 14 cm.
”Secara teknis, selisih 1 hingga 3 centimeter mungkin terlihat sepele bagi orang awam. Namun dalam konstruksi jalan beton, pengurangan ketebalan ini secara otomatis akan memangkas usia pakai jalan dan daya tahan beban secara drastis,” ujar salah satu pengamat konstruksi lokal.
Anggaran Miliaran, Kualitas Dipertanyakan
Besarnya anggaran yang mencapai lebih dari 1,1 miliar rupiah tersebut seharusnya menjamin kualitas fisik yang mumpuni. Penggunaan dana BKKD (Bantuan Keuangan Khusus Desa) yang merupakan uang pajak dari masyarakat menuntut pertanggungjawaban yang nyata, bukan sekadar penyelesaian fisik yang tampak “indah” di permukaan namun rapuh di dalamnya.
Kepala Desa Memilih Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Kepala Desa Besah selaku penanggung jawab wilayah. Namun, yang bersangkutan terkesan enggan memberikan penjelasan terkait temuan adanya ketidaksesuaian spek tersebut. Pesan maupun upaya menemui langsung belum mendapatkan respon resmi.
Publik kini menanti langkah tegas dari pihak inspektorat maupun dinas terkait di Kabupaten Bojonegoro untuk melakukan audit investigatif. Jika dibiarkan, praktik pengurangan volume seperti ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mengkhianati kepercayaan masyarakat Desa Besah yang mendambakan infrastruktur berkualitas tinggi.(BG)












