Setyo Wahono, Pemuda Bojonegoro Jangan Hanya Jadi Penonton Perubahan

BOJONEGORO,Jawakini.com – Di tengah arus modernisasi yang menuntut aksi nyata, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengirimkan sinyal keras: pemuda tidak boleh lagi sekadar menjadi objek pembangunan. Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa kemandirian bukanlah hadiah, melainkan hasil dari tempaan mental yang tangguh dan keberanian untuk mendobrak status quo.

Pesan tajam tersebut disampaikan saat ia membuka Talkshow dan Sharing Session Pemuda Pelopor Kabupaten Bojonegoro 2026 di Ruang Angling Dharma, Kamis (5/2/2026). Setyo Wahono mengingatkan bahwa ajang ini bukan panggung seremoni belaka, melainkan medan seleksi ketat bagi mereka yang benar-benar memiliki kontribusi nyata, bukan sekadar wacana.

Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Mandat Perubahan

Bupati menekankan bahwa kriteria “pelopor” memiliki standar tinggi. Peserta diwajibkan telah memiliki karya nyata minimal satu tahun di bidang pangan, teknologi, seni budaya, hingga lingkungan.

“Pemuda berhak atas perjuangannya sendiri. Namun, mental tangguh tidak datang tiba-tiba; ia dilatih. Perubahan besar di Bojonegoro mustahil terjadi tanpa keberanian dan konsistensi dari bawah,” tegas Wahono dengan nada lugas.

Sentilan untuk Birokrasi Camat Adalah Ujung Tombak

Tidak hanya menyasar kaum muda, Bupati juga memberikan “catatan khusus” bagi para camat yang hadir. Ia menegaskan bahwa peran camat bukan sekadar administratif, melainkan harus berfungsi sebagai mentor dan pembuka jalan bagi inovasi di wilayahnya.

Tanggung Jawab Kolektif: Camat memiliki beban moral yang sama dengan kepala daerah dalam menginisiasi gerakan kepemudaan.

Akselerasi Inovasi: Birokrasi tingkat kecamatan dituntut untuk lebih proaktif menjemput bola, bukan menunggu laporan di balik meja.

Menuju Level Nasional

Melalui tema “Mewujudkan Kemandirian Pemuda Melalui Pemuda Pelopor”, kegiatan ini melibatkan proses pendampingan hingga coaching intensif. Tujuannya jelas: Bojonegoro ingin mengirimkan delegasi ke tingkat provinsi dan nasional yang tidak hanya membawa nama baik, tetapi membawa solusi konkret bagi permasalahan sosial-ekonomi masyarakat.

Acara yang dihadiri lintas sektor—mulai dari akademisi hingga ketua OSIS—ini diharapkan menjadi titik balik bagi pemuda untuk berhenti mengeluh dan mulai memimpin. Karena bagi Setyo Wahono, masa depan daerah ini tidak sedang ditunggu, melainkan sedang dikonstruksi oleh tangan-tangan muda yang berani hari ini.(Red)

Penulis: Agus Pudjianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *