Proyek Miliaran Bangilan-Senori Retak,Dinas Bungkam, Pelaksana Terkesan “Enteng” Menanggapi

TUBAN,Jawakini.com – Aroma ketidakberesan mulai tercium pada proyek Pelebaran Jalan Bangilan-Senori yang baru saja rampung. Proyek bernilai Rp 3,16 miliar tersebut kini kondisinya memprihatinkan dengan retakan yang menjalar di badan jalan. Namun, respons yang muncul dari pihak pelaksana justru mengejutkan karena terkesan mengabaikan standar kualitas dan profesionalisme.

Respons Santai di Balik Anggaran Miliaran

Saat dikonfirmasi mengenai kondisi jalan yang sudah retak sebelum satu bulan ini, pihak pelaksana dari CV Pulung Rahayu, Samian mengakui bahwa itu adalah pekerjaannya(16/1/2026) Namun, tidak ada penjelasan teknis maupun permohonan maaf atas kualitas pekerjaan yang buruk.

“Iyo lur garapanku proyek APBD (Iya bro, itu garapanku proyek APBD),” cetus pihak pelaksana saat dikonfirmasi awak media.

Pernyataan singkat dan bernada santai tersebut sangat kontras dengan nilai kontrak yang fantastis, yakni Rp 3.170.000.000,00. Penggunaan istilah “Proyek APBD” oleh pelaksana seolah menegaskan bahwa pengerjaan infrastruktur yang dibiayai uang rakyat tersebut dikelola dengan sikap yang tidak serius.

Bungkamnya Dinas PUPR Tuban

Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tuban selaku instansi yang bertanggung jawab atas pengawasan proyek, masih memilih bungkam. Belum ada pernyataan resmi terkait langkah evaluasi atau sanksi terhadap rekanan yang menghasilkan kualitas pekerjaan “seumur jagung” ini.

Ketiadaan respons dari dinas terkait menimbulkan spekulasi di masyarakat mengenai lemahnya fungsi pengawasan di lapangan. Padahal, berdasarkan data LPSE, proyek ini menggunakan metode harga terendah sistem gugur, yang seharusnya tetap mengedepankan kualitas sesuai standar teknis yang ketat.

Menagih Kualitas, Bukan Sekadar Formalitas

Warga di sekitar lokasi Kecamatan Senori merasa kecewa. Upaya menutup retakan dengan aspal cair (sealant) dianggap hanya sebagai langkah “kosmetik” untuk menutupi cacat struktur beton.

“Uang miliaran itu dari pajak kami. Kalau pelaksana menjawabnya sesantai itu dan dinas hanya diam, lalu kepada siapa rakyat harus mengadu soal kualitas jalan ini?” keluh salah seorang warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut.

Publik kini menunggu keberanian Pemerintah Kabupaten Tuban untuk bertindak tegas. Jika proyek miliaran rupiah dibiarkan memiliki kualitas rendah sejak awal, maka masa pakai jalan ini diprediksi tidak akan bertahan lama, yang pada akhirnya hanya akan membuang-buang anggaran daerah secara sia-sia.(Red)

Penulis: Agus Pudjianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *