Kisah Korsa Jurnalistik, Dari Jaket Tebal Hingga Warisan Semangat Reno Pareno (Alm)
BOJONEGORO,Jawakini.com – Di tengah tuntutan deadline dan panasnya arena liputan, ada sepotong kisah dingin yang abadi: jejak langkah Persatuan Wartawan Bojonegoro (PWB) saat menaklukkan salah satu puncak gunung di wilayah Bojonegoro. Foto-foto langka era 2000-an kembali hadir, bukan sekadar memori, melainkan monumen bagi integritas dan persaudaraan yang kuat.
Jauh sebelum tren swafoto di perkotaan, para “kuli tinta” ini memilih lereng gunung yang sejuk,sebagai lokasi workshop persaudaraan sejati. Dalam balutan jaket tebal dan topi kupluk, terlihat wajah-wajah yang akrab di kalangan jurnalis Bojonegoro: Soni Suharsono, Agus Sigro, Doni Saiq, Agus Pudjianto, dan Ramon Pareno.
Yang paling mengharukan, foto ini juga mengabadikan momen bersama dua tokoh sentral yang kini telah berpulang: Reno Pareno (Alm), Ketua PWB kala itu, dan rekan sejawatnya, Suwondo (Alm).
Puncak Gunung: Tempat Korsa PWB Ditempa
Kegiatan trekking dan rekreasi alam ini adalah medium yang dipilih PWB untuk menempa “korsa” atau semangat kekeluargaan mereka. Para wartawan membuktikan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada ketajaman pena, tetapi pada pundak yang saling menopang saat di medan sulit.

Kepemimpinan yang Merangkul:
Reno Pareno (Alm) membuktikan kepemimpinannya tidak hanya di ruang rapat. Kehadiran beliau dalam setiap kegiatan fisik menantang menjadi simbol kerendahan hati dan kepedulian.
Solidaritas di Jalur Terjal:
Momen berbagi bekal, menghangatkan diri, dan beristirahat dalam kelompok adalah tempat ikatan emosional terjalin, jauh dari rivalitas media. Solidaritas inilah yang kemudian dibawa kembali ke kota untuk menghadapi risiko dan tekanan profesi.
Warisan Semangat Abadi:
Kenangan ini menjadi penghormatan bagi Reno dan Suwondo. Kepergian mereka menyisakan duka, namun semangat ketangguhan dan kekeluargaan yang terekam dalam tawa di gunung ini akan terus hidup, memacu dedikasi para jurnalis muda.
“Melihat foto ini, kita diingatkan bahwa PWB di masa itu adalah keluarga, bukan hanya organisasi profesi. Semangat mereka, yang terekam dalam tawa di puncak gunung ini, akan terus hidup dan memacu kami,” ungkap salah satu rekan mereka.
Bagi PWB, potret di tengah alam ini adalah monumen abadi bagi sebuah generasi jurnalis Bojonegoro yang berhasil membuktikan bahwa persaudaraan mereka sekuat akar pohon di lereng Gunung Pandan—kokoh dan tak terpisahkan.(Red)












