Dari Suara Keras Ke Diam: Reaksi Ketua HKB Atas Proyek Drainase Yang Berjalan Kembali

Bojonegoro, jawakini.com – Penantian panjang para pemborong akhirnya terjawab. Sebanyak 48 paket proyek drainase yang sebelumnya dibatalkan kini resmi dilaunching ulang dan ditenderkan kembali pada Jumat, 17 Oktober 2025.

Kabar ini menjadi bukti bahwa Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPUPKPCK) Bojonegoro menepati janjinya membuka kembali tender yang sempat menuai polemik.

Sebagaimana diketahui, pada 8 Oktober 2025 lalu, seluruh paket tersebut dibatalkan mendadak, membuat banyak rekanan lokal meradang.

Namun di balik kabar baik ini, ada satu hal yang menggelitik perhatian publik:

Ketua Himpunan Kontraktor Bojonegoro (HKB), Alham M. Ubay, yang sebelumnya lantang bersuara keras saat pembatalan diumumkan, kini justru memilih diam.Saat dimintai tanggapan oleh awak media jawakini.com (18/10/2025)Alham hanya menjawab singkat:

Ora usah ditanggapi.

Jawaban tersebut sontak menimbulkan tanda tanya.

Bagaimana mungkin seorang figur yang sebelumnya menyeru lantang atas nama keadilan kontraktor lokal, kini memilih bungkam di saat kebijakan yang dituntutnya justru direalisasikan?

Sikap diam ini menimbulkan kesan bahwa perjuangan yang semula digadang sebagai bentuk keberpihakan, berhenti di tengah jalan — seolah kritik hanya tajam ketika berada di luar pagar, namun tumpul ketika pintu sudah terbuka.

Padahal, di sinilah seharusnya suara asosiasi diperlukan: mengawal pelaksanaan, memastikan transparansi, dan menegaskan integritas sistem tender.

Publik pun berhak bertanya, apakah diamnya Alham M. Ubay menandakan rasa puas, atau justru rasa sungkan?

Apakah kritik yang dulu digemakan ternyata hanya alat tekanan sementara, bukan sikap yang konsisten terhadap prinsip?

Kritik yang berhenti di tengah jalan ibarat drainase yang tersumbat: airnya tak mengalir ke arah perbaikan, hanya menggenang dan menimbulkan tanda tanya.(BG)

Dan ketika pemimpin asosiasi kehilangan daya dorong moralnya, maka yang tersisa hanyalah gema seruan masa lalu yang kini terdengar sayup — tenggelam di antara proyek yang kembali berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *