BOJONEGORO,Jawakini.com — Antrean layanan cuci darah atau hemodialisis (HD) di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro dikeluhkan warga. Terbatasnya kapasitas mesin dibandingkan dengan lonjakan jumlah pasien membuat calon pasien harus menunggu hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan jadwal rutin.
Salah satu pasien gagal ginjal mengungkapkan kepasrahannya usai terdaftar dalam daftar tunggu sejak beberapa bulan lalu.
“Saya ini masih menunggu giliran untuk cuci darah di RSUD Sosodoro Djatikoesmo. Saya sudah antre mulai bulan Juli sampai sekarang belum dapat,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Untuk menyiasati kondisi tersebut dan menjaga kesehatannya, ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam dengan mencari alternatif pelayanan di rumah sakit lain.
“Ya kita cari rumah sakit yang lain, tapi ya itu biayanya bisa sampai Rp2 juta per sekali cuci darah,” tambahnya.
Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, pihak manajemen RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo membenarkan tingginya beban pelayanan hemodialisis saat ini.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, dr. Whenny Dyah Prajanti, menjelaskan bahwa kapasitas layanan belum sebanding dengan pertumbuhan jumlah pasien yang membutuhkan tindakan pembersihan darah secara berkala.
“Nggih pak, kondisinya memang demikian karena kebutuhan cuci darah masyarakat terus meningkat, belum selaras dengan penambahan jumlah mesin HD di seluruh RS,” terang dr. Whenny.

Ia memaparkan bahwa saat ini RSUD Sosodoro Djatikoesoemo telah mengoperasikan sebanyak 40 unit mesin HD. Seluruh unit tersebut bekerja optimal dengan pembagian tiga kali shift operasional setiap harinya.
Namun, kendala utama terletak pada sifat dari terapi hemodialisis itu sendiri, yang merupakan pelayanan medis rutin, terjadwal, dan berlangsung seumur hidup bagi penderita gagal ginjal kronis.
“Perputaran pemanfaatan mesin bergantian setelah pasien sebelumnya dinyatakan sembuh atau meninggal,” jelasnya.
Meski antrean pasien rutin tergolong panjang, dr. Whenny menegaskan bahwa pihak rumah sakit tetap memprioritaskan penanganan medis bagi pasien dengan kondisi kritis.
“Untuk kondisi pasien gawat darurat di IGD, tetap kami siapkan mesin yang bisa digunakan secepatnya,” pungkasnya.
Diharapkan adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun penambahan unit mesin HD di fasilitas kesehatan lain di Bojonegoro, guna memangkas rantai antrean dan meringankan beban finansial para penderita gagal ginjal.(Red)












