BOJONEGORO,Jawakini.com — Kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak baru akan kembali digelar pada tahun 2029. Namun, dinamika politik di tingkat tapak sudah mulai menggeliat secara senyap. Salah satu tokoh senior politik Bojonegoro, Sukur Priyanto, tampaknya memilih untuk mengambil langkah awal yang cukup berani dalam mempersiapkan basis massanya menuju panggung nasional.
Fenomena ini tertangkap melalui sebuah dokumentasi warga pada awal Juli 2026. Dalam foto terlihat seorang warga di ruang publik mengenakan jaket varsity berwarna biru-putih dengan tulisan tegas di bagian punggung: “SUKUR PRIYANTO BOJONEGORO – CALEG DPR RI 2029”.
Kemunculan atribut politik ini memicu diskusi hangat di kalangan masyarakat mengenai strategi komunikasi politik jangka panjang yang diterapkan oleh sang politisi.
Bagi publik Bojonegoro, Sukur Priyanto bukanlah nama baru dalam kancah politik lokal. Ia merupakan salah satu figur paling berpengaruh di daerah ini dengan rekam jejak yang solid. Sukur tercatat telah lima kali berturut-turut terpilih dan duduk di kursi DPRD Kabupaten Bojonegoro melalui kendaraan politik Partai Demokrat.
Keberhasilan mempertahankan kursi parlemen daerah selama lima periode membuktikan bahwa Ketua DPC Partai Demokrat Bojonegoro ini memiliki basis massa yang loyal dan mengakar kuat. Oleh karena itu, langkahnya untuk “naik kelas” ke DPR RI pada pemilu mendatang dinilai banyak pihak sebagai kelanjutan logis dari karier politiknya.
Meski demikian, keputusan untuk memunculkan atribut pencalegan DPR RI tahun 2029 pada tahun 2026—sekitar tiga tahun sebelum pelaksanaan pemilu—dianggap sebagai strategi start panjang yang tidak biasa.
Secara regulasi, peredaran atribut seperti pada foto,berada di wilayah sosialisasi personal dan tidak melanggar aturan kampanye resmi karena tahapan pemilu dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum dimulai. Strategi ini efektif untuk menjaga agar nama Sukur Priyanto tetap berada di ingatan (top of mind) pemilih potensial di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur IX.
Namun, pengamat politik lokal mengingatkan adanya tantangan psikologis di masyarakat. Setelah bertahun-tahun dihadapkan pada ketegangan politik, publik saat ini sebenarnya sedang berada dalam fase mengharapkan kerja nyata dari para wakil rakyat yang sedang menjabat, ketimbang disuguhi proposal politik untuk periode berikutnya terlalu dini.
Langkah matang yang diambil Sukur Priyanto ini menegaskan bahwa mesin politik tidak pernah benar-benar beristirahat. Bagi seorang politisi kawakan yang telah seperempat abad menguasai panggung lokal, peta menuju Senayan 2029 tampaknya sudah mulai dirancang sejak hari ini.(Jwk/bg)












