Mbah Alex: Pena Abadi Bojonegoro, Wartawan Kawakan yang Menjaga Nurani di Era Digital

Bojonegoro,jawakini.com – Di sudut warung kopi Bojonegoro, dalam temaram lampu bohlam dan kepulan aroma kopi hitam, Mbah Alex masih setia menari di atas layar ponselnya. Wartawan kawakan dengan pengalaman puluhan tahun ini, menata makna, menyusun kata, dan tak pernah lelah mengeja realita, meski zaman telah berlari kencang meninggalkannya.

Tangan tuanya mungkin mulai bergetar oleh usia, namun matanya menyimpan bara yang tak padam. Ia adalah cermin masa lalu, ketika berita ditulis dengan tinta dan tekad, bukan sekadar demi klik dan angka pembaca. Bagi Mbah Alex, menulis bukan soal popularitas, melainkan menyuarakan yang bisu, membangunkan yang diam, dan mengingatkan yang lupa.

“Selama pena ini masih bisa menoreh, aku tak akan berhenti menulis,” ujarnya lirih, menatap malam. Kutipan ini adalah tekadnya. Di tengah laju informasi yang gila-gilaan, ia memilih berjalan pelan dan pasti, mempertahankan kualitas dan kedalaman narasi yang mulai jarang ditemukan.

Dalam setiap kalimat Mbah Alex, mengalir kejujuran yang lahir dari pengalaman panjang seorang pewarta. Ia tahu, dunia kini berlari terlalu cepat, tapi ia tetap menulis dalam-dalam. Baginya, kejujuran adalah tinta, dan kemanusiaan adalah kertasnya. Ia tidak sekadar melaporkan fakta, tetapi juga menjaga denyut nurani bangsa.

Dari ujung jarinya, lahir berita yang tak sekadar mengabarkan, tapi juga menggetarkan. Mbah Alex bukan lagi sekadar nama; ia adalah mercusuar etika bagi pewarta muda. Ia mengajarkan bahwa tugas utama wartawan adalah menimbang setiap kata dengan hati, melawan godaan kecepatan demi menjaga substansi.

Di warung kopi itu, di bawah langit Bojonegoro yang hangat, kita menyaksikan bahwa ada api yang tak bisa padam. Api dari seorang Mbah Alex, yang memilih untuk menulis bukan untuk dikenang, tetapi untuk terus memberi penerangan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *