BOJONEGORO,Jawakini.com – Peta politik Desa Purworejo, Kecamatan Padangan, hari ini (11/3/2026) memberikan kejutan yang cukup “pedas” bagi para pengamat. Di tengah badai hukum yang masih menjerat mantan Kepala Desa sebelumnya, sang istri, Sumi, justru berhasil membuktikan bahwa magnet kekuasaan keluarganya masih terlalu kuat untuk digoyahkan.
Sumi resmi memenangkan Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (Pilkades PAW) dengan perolehan suara yang mencolok, menyingkirkan rivalnya, M. Sugianto, dengan selisih yang sangat lebar.
Angka yang Berbicara
Hasil penghitungan suara menunjukkan dominasi absolut Sumi di hati konstituen:
Sumi: 474 Suara
M. Sugianto: 130 Suara
Total Hadir: 624 Pemilih
Margin kemenangan yang mencapai lebih dari 75% ini seolah menjadi pesan keras: bagi warga Purworejo, rekam jejak emosional keluarga mantan kades jauh lebih menentukan daripada stigma hukum yang sedang dijalani sang suami di balik jeruji besi.
Prosesi Demokrasi yang Mulus
Ketua Panitia Pilkades PAW, Amir Wahyudi, menyatakan rasa syukurnya atas kondusifitas jalannya pesta demokrasi tingkat desa ini.
“Alhamdulillah, (prosesnya) berjalan dengan lancar. Berkat doa seluruh warga Purworejo, semua tahapan bisa terlalui dengan baik,” ujar Amir saat ditemui di lokasi.
Senada dengan itu, PJ Kepala Desa Purworejo, David, mengapresiasi kedewasaan warga dalam berdemokrasi. Ia menegaskan bahwa mulai dari pembentukan panitia hingga pemungutan suara, semua berjalan sesuai rel yang ada hingga menghasilkan pemimpin baru.
Antara Mandat Rakyat dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Kemenangan ini menempatkan Sumi pada posisi yang unik sekaligus menantang. Di satu sisi, ia membawa mandat besar dari rakyat yang merindukan gaya kepemimpinan keluarganya. Di sisi lain, ia memikul beban pembuktian untuk membersihkan citra pemerintahan desa dari bayang-bayang kasus hukum suaminya.
Loyalitas yang Mengakar
Fenomena di Purworejo ini menjadi bukti nyata bahwa di tingkat akar rumput, loyalitas personal seringkali melampaui logika politik formal. Terpilihnya Sumi adalah simbol perlawanan terhadap stigma—sebuah pembuktian bahwa bagi masyarakat setempat, “trah” kepemimpinan yang sudah mengakar jauh lebih dipercaya untuk melanjutkan pembangunan desa.(BG)












