Kekecewaan Puncak HJB: Ribuan Warga Gagal Nonton Bondan Prakoso, Protes Tiket Barcode Batasi Akses ke GOR

BOJONEGORO,jawakini.com – Puncak kegiatan Bojonegoro Youth Festival (BYF) 2025, yang dirangkai dengan peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 dan menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-97, menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat. Acara yang digelar di GOR Utama Ngumpakdalem selama dua hari (24–25/10/2025) ini diprotes karena adanya pembatasan akses masuk ke dalam GOR.

​Kekecewaan warga memuncak pada acara puncak yang menampilkan musisi ternama, Bondan Prakoso. Daya tarik artis ini menjadi magnet tersendiri bagi ribuan anak muda Bojonegoro, namun banyak yang harus gigit jari karena tidak diizinkan masuk tanpa memiliki barcode tiket resmi.

Kayaknya Acara Dikomersilkan”

Andi, seorang warga dari Baureno, menyampaikan kekesalannya. Ia datang dari jauh dengan harapan bisa menyaksikan penampilan Bondan Prakoso secara langsung, namun terpaksa harus menonton dari layar lebar di luar GOR.

​“Saya kecewa dengan penyelenggara acara ini. Masak kita disuruh melihat di layar lebar, kayak nonton di TV aja. Saya jauh-jauh ingin melihat langsung Bondan Prakoso,” ujarnya dengan nada kesal.

​Andi bahkan mempertanyakan status acara tersebut, “Acara ini kayak ada dikomersilkan karena yang boleh masuk hanya yang membawa barcode. Kalau memang bayar, ya kita bayar!”

​Hal senada juga disampaikan oleh Noval, pemuda dari kecamatan kota. Ia menyoroti kontradiksi antara label acara yang disebut ‘Gratis’ dengan praktik pembatasan akses.

​“Kok bisa ya acara berlabel gratis kok ada pembatasan akses masuk ke dalam? Kita semua tahu acara ini untuk HJB dan untuk masyarakat Bojonegoro. Kayak ada pembatasan antara pejabat dan rakyat, padahal kita tahu acara ini dibiayai oleh APBD. Masak kita yang membayar pajaknya tidak boleh lihat secara langsung,” protes Noval.

Penjelasan Dinas: Keterbatasan Kapasitas dan Antisipasi UMKM

​Dikonfirmasi terkait pembatasan ini, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Bojonegoro, Arief Nanang sugiarato memberikan tanggapan melalui pesan singkat pada Minggu (26/10/2025).

​Arif Nanang menjelaskan bahwa pembatasan tersebut semata-mata karena keterbatasan kapasitas GOR utama.

​“Kita tahu karena kapasitas GOR terbatas, tidak semua langsung boleh masuk. Harus war ticket terlebih dahulu dan itu sudah diumumkan di awal kegiatan,” jelasnya.

​Untuk mengakomodasi masyarakat yang tidak bisa masuk, Arif Nanang menyebutkan bahwa panitia telah menyiapkan videotron untuk nonton bareng di depan GOR. Pilihan ini juga bertujuan untuk melariskan UMKM yang telah disiapkan di luar gedung.

​Lebih lanjut, Arief Nanang sugiarato mengakui tingginya antusiasme masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa kapasitas tribun GOR utama hanya memungkinkan menampung 1.600 penonton.

​“Mohon maaf tidak bisa memuaskan semua pihak. Saat war ticket ke-3 dibuka, jumlah tiket 300 hanya bertahan dua menit saja. Luar biasa antusiasme masyarakat Bojonegoro,” tambahnya.

​Ia berjanji, “Ke depan mungkin kita siapkan skema di tempat yang memungkinkan lebih banyak bisa dinikmati masyarakat Bojonegoro. Terima kasih atas dukungan semua masyarakat, kegiatan semalam berlangsung lancar, meriah, dan sukses.”

​Selain nobar videotron, Dispora juga telah menyediakan link siaran langsung melalui kanal YouTube milik Pemkab Bojonegoro bagi masyarakat yang ingin menikmati kegiatan secara daring.

Kekecewaan warga Bojonegoro ini menjadi catatan penting bagi Pemkab Bojonegoro. Meskipun pembatasan akses dijelaskan karena alasan kapasitas dan keselamatan, insiden ini kembali menyoroti pentingnya transparansi dan komunikasi yang efektif dalam setiap kegiatan publik. Harapannya, janji Pemkab untuk menyiapkan lokasi yang lebih representatif di masa depan dapat segera direalisasikan agar perayaan HJB benar-benar dapat dinikmati secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat Bojonegoro, tanpa ada batasan yang menimbulkan persepsi eksklusivitas.(BG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *