Estetika Semrawut di Jantung Kota Menanti Tragedi di Pertigaan BRI Bojonegoro

Bojonegoro.Jawakini.com – Kawasan Jalan AKBP M. Suroko, tepatnya di pertigaan BRI Bojonegoro, kini punya “pajangan” baru yang cukup meresahkan. Bukannya pemandangan kota yang rapi, warga justru disuguhi instalasi kabel udara yang lebih mirip jaring laba-laba raksasa yang kehilangan arah.

Kala Kelalaian Bertemu Realita

Pada Jumat (20/2/2026), peringatan warga yang selama ini dianggap angin lalu akhirnya mewujud dalam insiden nyata. Sebuah truk pengangkut sepeda motor tersangkut untaian kabel yang menjuntai rendah. Beruntung, insiden ini “hanya” menyangkut kendaraan, bukan nyawa manusia. Namun, apakah kita harus menunggu adanya korban jiwa untuk menyebut kondisi ini sebagai keadaan darurat?

Catatan Merah Penataan Ruang

Ada beberapa poin krusial yang seharusnya menjadi tamparan bagi penyedia layanan (provider) maupun instansi terkait:

  • Standar Keamanan yang Terabaikan: Kabel yang melintang rendah dan bertumpuk di area padat lalu lintas adalah bukti nyata pengabaian terhadap standar keselamatan publik.
  • Wajah Kota yang Terkoyak: Lokasi ini berada di dekat institusi pendidikan (SMAN 4 Bojonegoro) dan pusat perbankan. Visual “semrawut” ini sangat kontras dengan ambisi penataan kota modern.
  • Risiko Efek Domino: Kabel yang terurai hingga menyentuh pagar sekolah bukan hanya soal estetika, tapi soal potensi bahaya listrik dan gangguan arus lalu lintas di titik nadi kota.

Walah, Mas, kabelnya semrawut, enggak enak dipandang.”

Kalimat sederhana dari seorang pengendara ini sebenarnya adalah kritik paling jujur bagi mereka yang bertanggung jawab atas infrastruktur tersebut.

Menunggu Langkah Nyata, Bukan Sekadar Wacana

Publik tidak butuh janji penataan yang direncanakan berbulan-bulan. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan taktis di lapangan:

  • Audit Total seluruh kabel udara di sepanjang Jalan AKBP M. Suroko.
  • Pemutusan atau Perapian segera terhadap kabel-kabel “liar” yang tidak bertuan.
  • Sanksi Tegas bagi provider yang membiarkan asetnya membahayakan keselamatan umum.

Keselamatan warga Bojonegoro tidak seharusnya digadaikan demi efisiensi biaya pemasangan kabel yang asal-asalan. Mari kita lihat, seberapa cepat respons pihak terkait sebelum “jaring” ini kembali memakan korban.

Penulis: Agus Pudjianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *