Sumur Tua Wonocolo Di Balik CSR Pertamina dan Jeritan Ekonomi Warga yang Terhimpit

foto: dok (ist)

BOJONEGORO,Jawakini.com – Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang digulirkan Pertamina EP Field Cepu di kawasan sumur minyak tua, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, kini menjadi sorotan. Meski bantuan fasilitas terus mengalir, realita di lapangan menunjukkan warga masih berjuang keras bertahan hidup di tengah lesunya produksi minyak tradisional.

​Dalam empat tahun terakhir, Pertamina EP Field Cepu mengklaim telah menyalurkan berbagai program strategis untuk menyokong kebutuhan dasar dan potensi lokal di Desa Wonocolo. Namun, bagi sebagian warga, bantuan fisik tersebut belum mampu menambal lubang ekonomi akibat berhentinya aktivitas tambang.

Fokus CSR: Air Bersih dan Wisata Geopark 

​Perwakilan Pertamina EP Field Cepu, Edy Arto, menjelaskan bahwa perusahaan berkomitmen mendukung kesejahteraan masyarakat di kawasan tambang tradisional melalui berbagai sektor.

​”Program yang sudah berjalan di antaranya penyediaan fasilitas air bersih dan pengembangan fasilitas wisata Geopark Wonocolo,” ujar Edy.

​Langkah ini diambil untuk memberikan nilai tambah bagi kawasan Wonocolo agar tidak hanya bergantung pada hasil bumi, tetapi juga pada sektor pariwisata edukasi berbasis geologi.

Realita Pahit Produksi Lesu, Utang Menumpuk 

​Namun, gemerlap program CSR berbanding terbalik dengan kondisi dapur warga. Lesunya produksi di sejumlah titik sumur tua memicu gelombang pengangguran baru bagi para penambang tradisional.

​Wartini, seorang warga Desa Wonocolo, menceritakan potret buram ekonomi keluarganya. Sejak sumur tempat suaminya mengais rezeki berhenti berproduksi, pendapatan keluarga terjun bebas.

  • ​Beban Ekonomi: Untuk menyambung hidup, keluarga Wartini terpaksa berutang di berbagai tempat. ​
  • Gadai Aset: BPKB kendaraan pun harus digadaikan ke lembaga pembiayaan demi menutupi kebutuhan mendesak.
  • ​Merantau: Tak ada pilihan lain, Wartini kini harus meninggalkan desa untuk bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di Surabaya.

​”Suami saya sudah tidak bekerja lagi karena sumurnya tutup dan tidak produksi. Hutang juga masih banyak,” keluh perempuan yang akrab disapa Warti tersebut.

Harapan Warga: Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Fasilitas 

​Kondisi Warti hanyalah satu dari sekian banyak potret warga Kedewan yang menggantungkan hidup pada “emas hitam”. Meskipun fasilitas umum seperti air bersih dan renovasi objek wisata telah tersedia, warga menilai hal tersebut belum menyentuh akar permasalahan perut.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak Pertamina tidak hanya fokus pada pembangunan fisik atau fasilitas umum, tetapi juga:

  • ​Diversifikasi Ekonomi: Membuka peluang usaha mikro yang tidak bergantung pada minyak. ​
  • Lapangan Kerja Baru: Menciptakan solusi bagi para mantan penambang yang kehilangan mata pencaharian. ​
  • Stabilisasi Produksi: Mencari solusi teknis agar sumur-sumur tua bisa kembali produktif secara berkelanjutan.

​Hingga saat ini, kawasan sumur tua Wonocolo tetap menjadi potret kontradiksi; sebuah kawasan dengan kekayaan sejarah migas yang besar, namun penduduknya masih harus berjuang melawan bayang-bayang kemiskinan di tengah ketidakpastian produksi.(red)

 

 

Penulis: RedaksiEditor: BG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *