BOJONEGORO, Jawakini.com – Krisis kualitas proyek jalan rigid beton yang dibiayai Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) dari APBD Kabupaten Bojonegoro tidak hanya mengguncang Desa Kemiri, Kecamatan Malo. Kasus serupa kini melanda Desa Mori, Kecamatan Trucuk, dengan masalah yang sama mengkhawatirkan.
Proyek yang digadang-gadang sebagai peningkatan infrastruktur desa justru menusuk ke hati warga akibat kualitas yang jauh dari harapan. Di Desa Mori, ditemukan bahwa material beton yang seharusnya digunakan untuk lantai dasar justru dipakai untuk struktur jalan rigid – sebuah indikasi nyata bahwa kontraktor pelaksana masih belum menunjukkan profesionalisme yang memadai.
Imam Turmudi, penyedia beton akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait kondisi beton yang tetap basah dan lembek di depan Masjid Desa Mori. Melalui sambungan telepon pada Selasa (20/1/2026), ia mengakui ketidaksesuaian material, namun menyalahkan sepenuhnya pihak penyedia beton (batching plant).
“Material yang dikirim tidak sesuai spesifikasi yang dipesan. Kami menduga faktor kelelahan operator pabrik menyebabkan kesalahan dalam proses pencampuran,” jelasnya.
Lanjut, Imam menjelaskan bahwa material yang dikirim ke lokasi proyek tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipesan. Ia menduga terjadi faktor kelelahan pada tenaga kerja di pabrik sehingga terjadi kesalahan dalam proses pencampuran bahan beton.
“Benar, itu kesalahan pabrik. Kemungkinan karena operator terlalu capek sehingga lalai,dan pada dasarnya pabrik bertanggung jawab penuh dan siap menganti,”tegas Imam saat dikonfirmasi awak media.
Untuk penanganan masalah, Imam menyatakan pihaknya sedang menunggu surat resmi dari Kepala Desa Mori sebagai dasar hukum untuk memulai proses pembongkaran dan penggantian.
“Setelah surat turun, langsung kami kerjakan. Targetnya satu hari selesai,” ujarnya dengan tegas.
Namun, janji penggantian dengan material berstandar K-350 – yang lebih tinggi dari spesifikasi awal – kini dipertanyakan keabsahannya oleh warga. Apakah janji itu akan terealisasi atau hanya omong kosong belaka? Masyarakat Desa Mori kini terus mengawasi langkah-langkah kontraktor.
Publik juga mengeluarkan suara keras, OPD terkait harus segera melakukan penyelidikan mendalam, dan tim Mitigasi Risiko Infrastruktur wajib turun langsung ke lokasi untuk mengevaluasi kejadian ini secara menyeluruh.(Red)












