Malam 1 Suro di Gunung Lawu, LSM Angling Dharmo Pemimpin Ritual Kirim Doa di Hargo Dalem

MAGETAN, Jawakini.com – Kabut tipis menyelimuti kawasan puncak Gunung Lawu saat malam 1 Suro tiba. Udara dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan langkah puluhan peziarah yang menapaki jalur pendakian menuju Hargo Dalem, salah satu lokasi spiritual yang dikenal sakral dalam tradisi masyarakat Jawa.

Di antara rombongan tersebut, tampak Ketua LSM Angling Dharmo, M. Nasir. Ia memimpin langsung kegiatan ritual kirim doa untuk para leluhur Tanah Jawa yang dipusatkan di Hargo Dalem—kawasan yang diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit

​Kegiatan spiritual pada malam Suro tahun ini diikuti oleh 17 peserta yang berkumpul untuk melaksanakan doa bersama dan refleksi spiritual. Menariknya, dari total peserta tersebut, sembilan di antaranya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari wilayah Kecamatan Kedewan yang turut larut dalam prosesi kirim doa untuk leluhur Nusantara.

​Sebelumnya, rangkaian menyambut bulan sakral ini juga telah diawali dengan kegiatan Mapak Suro pada Sabtu Legi (9/6/2026) lalu. Pada agenda pembuka tersebut, M. Nasir memimpin rombongan yang lebih besar, yakni sebanyak 22 orang.

​Menurut M. Nasir, perjalanan menuju puncak Lawu kali ini bukan sekadar pendakian fisik biasa, melainkan sebuah perjalanan batin yang sarat akan makna mendalam.

​”Kami datang bukan untuk mencari hal-hal mistis. Kami berdoa kepada Allah SWT sambil mengenang jasa para leluhur yang telah membangun peradaban. Nilai kebijaksanaan, persatuan, dan kebaikan yang mereka wariskan harus tetap kita jaga,” ujar Nasir di sela-sela kegiatan.

Bagi Nasir sendiri, Gunung Lawu seolah sudah menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, ia tercatat telah lima kali melakukan pendakian ke gunung berketinggian 3.265 mdpl tersebut bersama berbagai rombongan untuk misi spiritual dan budaya.

Perjalanan mendaki medan terjal berbalut cuaca ekstrem ini juga memunculkan solidaritas yang kuat di antara peserta. Suasana kekeluargaan begitu terasa ketika mereka saling membantu, terutama saat ada anggota rombongan yang mengalami kelelahan dan membutuhkan pengobatan sederhana.

​Sambil beristirahat di warung-warung pendakian, para peserta juga mengikuti prosesi pembersihan diri (bersuci) sebelum akhirnya memantapkan langkah menuju kawasan puncak.

Gunung Lawu memang memiliki posisi istimewa dalam kosmologi sejarah dan spiritualitas Jawa. Setiap memasuki bulan Suro atau Muharam, ribuan peziarah dari berbagai daerah berbondong-bondong datang untuk menjalani tirakat, doa bersama, meditasi, hingga refleksi diri.

Suasana khusyuk begitu terasa saat rombongan tiba di Hargo Dalem. Di bawah temaram lampu yang terbatas dan hamparan bintang langit Lawu, doa-doa dipanjatkan di tengah keheningan malam yang pekat. Sebagian peserta duduk bersila, sementara yang lain larut dalam perenungan mendalam di tengah dinginnya udara pegunungan.

​Tradisi malam 1 Suro sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Sistem kalender Jawa yang diperkenalkan oleh Sultan Agung Mataram berhasil menggabungkan unsur budaya Jawa dan Islam. Oleh karena itu, momentum Suro selalu dipandang sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi diri (mulat sariro), memohon keselamatan, serta memperkuat hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, rombongan perlahan bersiap meninggalkan kawasan Hargo Dalem. Meski ritual telah usai, pesan yang dibawa pulang tetap sama: menjaga nilai luhur budaya Jawa, menghormati sejarah, serta merawat persatuan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.(red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *