BOJONEGORO,Jawakini.com – Ada yang terasa kurang pada peluncuran Kalender Event Bojonegoro 2026 baru-baru ini. Ketidakhadiran Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Ahmad Supriyanto, bukan tanpa alasan. Beliau memilih absen sebagai bentuk protes keras karena menganggap dokumen tersebut belum matang dan tidak punya arah yang jelas.
Menurut politisi muda asal Baureno ini, apa yang disebut sebagai “Kalender Event” tersebut lebih mirip dengan catatan harian dinas daripada sebuah strategi besar untuk memajukan daerah.
Ahmad Supriyanto menyoroti isi kalender yang menurutnya hanya berisi kegiatan rutin yang sebenarnya sudah biasa dilakukan setiap tahun. Beliau menyebutkan beberapa contoh seperti lomba PBB, sapa bupati, hingga peringatan Hari Anak Nasional.
“Kalau kita lihat, ini seperti kalender biasa. Hanya kumpulan agenda dinas, bukan strategi besar untuk mendorong ekonomi atau pariwisata,” tegas pria yang juga menjabat Ketua DPD Golkar Bojonegoro tersebut.
Tanpa adanya proses kurasi yang ketat, beliau khawatir kalender ini hanya akan menjadi daftar kegiatan yang jalan di tempat, tanpa target dampak yang nyata bagi masyarakat luas.
Kritik yang lebih tajam muncul terkait masalah anggaran. Ahmad Supriyanto melihat ada potensi penyimpangan fungsi. Jika tidak ada kendali yang kuat, kalender ini dikhawatirkan hanya menjadi cara untuk mendistribusikan anggaran antar dinas saja.
“Kalau seperti ini, kesannya hanya membagi anggaran. Sementara dampaknya ke masyarakat tidak terasa,” ujarnya dengan nada kecewa. Beliau menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk event harus punya ukuran jelas, misalnya apakah bisa menggerakkan UMKM atau meningkatkan jumlah wisatawan.
Dalam penyampaiannya, Ahmad Supriyanto mengajak pemerintah daerah untuk berkaca pada kesuksesan Banyuwangi. Baginya, kunci sukses sebuah event bukan terletak pada seberapa besar anggarannya, melainkan pada fokus dan konsistensi.
Banyuwangi membuktikan bahwa dengan anggaran pariwisata yang tidak terlalu besar, mereka bisa menciptakan dampak ekonomi yang luar biasa bagi warganya karena punya strategi yang terarah.
Sebagai bentuk tanggung jawab kepada rakyat, Komisi C mendorong agar Kalender Event 2026 ini segera dirombak total. Ada empat poin utama yang diusulkan:
- Satu Bulan, Satu Event Besar Harus ada satu acara utama setiap bulan yang benar-benar menarik pengunjung.
- Coret Kegiatan “Seremonial”: Kegiatan yang tidak memberi dampak ekonomi bagi warga sebaiknya dihapus dari daftar utama.
- Fokus pada Identitas Lokal: Event harus memperkuat ciri khas Bojonegoro dan membantu pedagang kecil (UMKM).
- Jadwal yang Merata: Acara jangan ditumpuk di satu waktu saja agar perputaran uang di masyarakat stabil sepanjang tahun.
Kritik pedas dari gedung DPRD ini menjadi pengingat penting: jangan sampai kalender event hanya menjadi rutinitas administratif di atas kertas, sementara kantong rakyat tetap kering.(Red)












