Opini  

Proyek U-Ditch Ketika Rakyat Dipaksa Menelan “Lumpur” Ketidakbecusan

Bojonegoro,Jawakini.com – Apa yang terjadi di Desa Trucuk malam ini adalah sebuah penghinaan terhadap akal sehat. Di bawah bendera pembangunan drainase, CV Rendra Jaya bukannya menata saluran air, melainkan sedang mempertontonkan praktik pengerjaan proyek paling bar-bar yang pernah disaksikan warga.

Bagaimana mungkin sebuah perusahaan kontraktor diizinkan membelah jalan di sepuluh titik sekaligus tanpa ada satu pun yang tuntas? Ini bukan teknik konstruksi; ini adalah vandalisme birokrasi. Dengan pola kerja “gali-tinggal-pindah”, CV Rendra Jaya telah mengubah akses utama desa menjadi jalur pemandian lumpur yang mengancam nyawa.

Warga tidak sedang melintasi jalan darurat. Mereka sedang dipaksa melakukan aksi akrobatik di atas jalur yang licin, gelap, dan mematikan. Jalur yang di siang hari saja sudah tidak layak, kini di malam hari menjelma menjadi jebakan maut bagi siapa saja yang berani melintas.

Di balik kekacauan ini, ada pertanyaan besar yang mengarah pada Dinas Teknis dan para pengawas lapangan. Di mana kalian?

  1. Apakah mata kalian tertutup oleh laporan – laporan admistrasi diatas kertas?
  2. Apakah keselamatan warga Trucuk nilainya lebih murah daripada mengejar termin pencairan anggaran akhir tahun?

Membiarkan kontraktor bekerja serampangan tanpa rekayasa lalu lintas yang manusiawi adalah bentuk pembiaran yang kriminal. Papan peringatan yang berdiri di sana tak lebih dari sekadar “hiasan” untuk menggugurkan kewajiban, tanpa ada rasa tanggung jawab moral sedikit pun.

Jangan sebut ini sebagai kemajuan jika rakyat harus merangkak di dalam lumpur untuk sekadar pulang ke rumah. Jangan bicara soal kesejahteraan jika akses ekonomi warga diputus total tanpa skema alternatif yang layak.

Apa yang terjadi malam ini adalah potret nyata betapa wibawa pemerintah daerah telah digadaikan kepada kontraktor yang hanya peduli pada kecepatan serapan anggaran. Warga Trucuk bukan kelinci percobaan. Mereka adalah pembayar pajak yang berhak mendapatkan keamanan, bukan sekadar janji-janji pembangunan yang aromanya amis oleh ketidakbecusan.

Jika malam ini ada warga yang jatuh atau celaka di jalur maut tersebut, jangan hanya salahkan hujan. Salahkan CV Rendra Jaya, salahkan pengawas yang tidur, dan salahkan sistem yang membiarkan kegilaan ini dianggap sebagai “prosedur standar”.Trucuk sedang tidak dibangun. Trucuk sedang dipaksa menyerah pada keserakahan teknis yang tuna empati.

Rakyat tidak butuh seribu alasan teknis atau janji-janji manis di atas kertas. Yang dibutuhkan warga Trucuk saat ini adalah tindakan nyata,selesaikan lubang yang ada sebelum menggali yang baru, atau angkat kaki dan biarkan pihak yang lebih berkompeten mengambil alih. Sebelum lumpur ini memakan korban jiwa, pemerintah harus bangun dari tidurnya. Jangan sampai pembangunan ini selesai, tapi kepercayaan rakyat sudah terkubur bersama semen-semen drainase kalian.(Red)

Penulis: Redaksi.......Editor: Agus Pudjianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *