BOJONEGORO,jawakini.com – Klaim mengenai dugaan penjarahan berkas panitia dan ancaman senjata tajam (sajam) saat kericuhan pada ajang Olimpiade Matematika di Bojonegoro dibantah keras oleh pihak kepolisian dan dinas terkait. Bantahan ini disampaikan untuk meluruskan keterangan yang sebelumnya diutarakan oleh panitia penyelenggara.
Saat ditemui awak media ini (10/12/2025)Kapolsek Kota, AKP Agus Elfauzi, memastikan bahwa tidak ada insiden penjarahan atau pengancaman memakai Sajam di lokasi kejadian.
“Saya berada di lokasi saat itu. Saya pastikan ketika saya berada di lokasi tidak ada penjarahan dan tidak ada pengancaman menggunakan senjata tajam,” tegas AKP Elfauzi.
Ia menjelaskan bahwa saat kericuhan terjadi pada Minggu (07/12/2025), dirinya bersama 12 personel Polsek Kota berada di Gedung Serbaguna untuk mengamankan kegiatan, sehingga seluruh situasi dapat terpantau langsung. Menurutnya, meskipun suasana sempat memanas, kericuhan masih dapat dikendalikan.
AKP Elfauzi mengungkapkan bahwa ia dan anggotanya bahkan sempat menggunakan mikrofon untuk menenangkan ribuan massa, serta membantu mengoperasikan laptop untuk mengaktifkan sistem suara.
Fokus Saat Ini yaitu Pihak kepolisian saat ini menyatakan fokus utama mereka adalah mendukung proses pengembalian dana pendaftaran kepada para peserta olimpiade.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Welly Fritama, turut memperkuat bantahan tersebut. Ia memastikan bahwa hingga saat ini, tidak ada satu pun laporan mengenai kerusakan pada Gedung Serbaguna yang menjadi lokasi olimpiade.
“Kalau memang pintu didobrak, tentu ada kerusakan. Dan kalau ada kerusakan, pasti sudah ada laporan ke saya. Sampai saat ini belum ada laporan apa pun,” ujar Welly.
Klarifikasi serentak dari kepolisian dan Disbudpar ini menanggapi keterangan panitia Olimpiade Matematika. Dalam pertemuan mediasi terkait pengembalian dana di Gedung Pemkab Bojonegoro, panitia sempat menyebut kesulitan menelusuri data karena laptop dan berkas diklaim dijarah massa, serta adanya anggota panitia yang disebut mendapat ancaman dengan senjata tajam.
Olimpiade Matematika tingkat MI/SD yang digelar pada Minggu (07/12/2025) di Gedung Serbaguna Bojonegoro berakhir ricuh. Kericuhan dipicu oleh buruknya manajemen keramaian dan teknis pelaksanaan, di mana hampir 8.000 peserta memadati lokasi.
Penyebab Utama Ketiadaan alur masuk-keluar yang jelas, minimnya petugas lapangan, serta pembukaan pintu gedung tanpa koordinasi memicu ribuan anak keluar secara bersamaan.
Dampak: Kondisi ini menyebabkan peserta terpisah dari orang tua, memicu kepanikan, tangisan, dan desak-desakan hebat di sejumlah titik.
Pihak kepolisian dan Disbudpar berharap klarifikasi ini dapat segera meluruskan informasi yang beredar di masyarakat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lebih lanjut.(Red)












