Opini  

Seruan Kritis Ketua BKN Bojonegoro Hutan Kita di Titik Krusial, Selamatkan dengan Aksi Kolektif Taktis

BOJONEGORO,Jawakini.com (7/12/2025) — Ketua Budaya Kusuma Nusantara (BKN) Kabupaten Bojonegoro, Lulus Setiawan, mengeluarkan seruan yang sangat lugas dan kritis mengenai kondisi hutan Bojonegoro. Menggambarkan upaya pelestarian sebagai sebuah keharusan, bukan pilihan, Lulus menegaskan bahwa ancaman terhadap hutan saat ini memerlukan Gerakan Terintegrasi yang melibatkan sanksi hukum keras, disiplin industri, dan partisipasi publik yang tidak bisa ditawar lagi.

Menurut Lulus, yang juga seorang petani hutan binaan Rejo Semut Ireng, gagasan penyelamatan hutan yang bersifat parsial atau setengah hati tidak akan pernah efektif.

Menjaga kelestarian hutan harus dimulai sejak akar permasalahan. Ini bukan sekadar menanam, tetapi menjamin pencegahan deforestasi, rehabilitasi ekosistem, dan pengelolaan hutan yang lestari secara substansial,” tegas Lulus.

Lulus Setiawan secara tajam menyoroti praktik pengelolaan hutan yang ideal. Ia menekankan bahwa metode tebang pilih dan tebang tanam harus diterapkan dengan disiplin militer, di mana hanya pohon yang benar-benar matang atau mati yang boleh dipanen, dan penanaman pengganti harus segera dilakukan tanpa penundaan.

Titik tekan yang paling keras dilayangkan kepada penegakan hukum. Lulus mendesak Pemerintah dan aparat terkait untuk menunjukkan ketegasan yang mutlak terhadap pelaku penebangan liar.

Jika tanpa sanksi yang benar-benar tegas dan menghukum, para perusak hutan akan terus merajalela. Hutan kita adalah aset vital, dan tindak pidana perusakan harus diperlakukan setara dengan kejahatan lingkungan serius lainnya,” ujarnya, menyerukan penguatan kembali sistem hukum yang ada.

Seruan keras juga diarahkan kepada sektor industri. Lulus mendorong perusahaan pengguna bahan baku kayu untuk segera mengadopsi sertifikasi keberlanjutan global, seperti FSC dan PEFC. Menurutnya, ini adalah bukti konkret bahwa industri tidak hanya beretorika, tetapi benar-benar bertanggung jawab bahwa bahan baku mereka bukan berasal dari perusakan ekosistem.

Sementara itu, petani didorong untuk beralih ke praktik yang lebih restoratif. Lulus menekankan pentingnya pertanian regeneratif, seperti agroforestri dan pengomposan. Praktik ini dinilai efektif untuk mengurangi tekanan ekonomi yang selama ini memaksa pembukaan lahan baru.

Lulus mengingatkan bahwa pelestarian hutan bukanlah tugas Pemerintah semata, melainkan kontribusi kolektif. Ia mengajak masyarakat untuk memikul tanggung jawab besar ini, dimulai dari tindakan sehari-hari: mengurangi konsumsi kertas, memilih produk yang bersertifikat ramah lingkungan, dan aktif dalam gerakan reboisasi.

“Pengelolaan sampah yang baik, terutama di area alam, sangat krusial. Hutan bukanlah tempat sampah. Ini adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. Pelestarian harus mencakup seluruh ekosistem, bukan sekadar menancapkan bibit pohon,” tutupnya.

Sebagai Ketua BKN Bojonegoro, ia menggarisbawahi filosofi kuno bahwa alam dan manusia berada dalam hubungan harmonis. Pohon, disebutnya sebagai “saudara tua” yang wajib dihormati dan dilindungi, menjadikannya sebuah isu budaya dan etika, selain isu lingkungan.

Seruan Lulus Setiawan ini menjadi alarm yang jelas: hutan Bojonegoro menuntut aksi kolektif yang jujur, terintegrasi, dan tanpa kompromi(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *