Bojonegoro,Jawakini.com – Pelaksanaan proyek Bantuan Khusus Keuangan Desa (BKKD) untuk pembangunan jalan rigid beton di Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, tengah menjadi perhatian serius di kalangan masyarakat setempat. Proyek yang dikabarkan menelan anggaran fantastis mencapai Rp 4,4 miliar ini, disorot lantaran proses pengerjaan yang menggunakan material yang secara visual menyerupai lumpur.
Kondisi material tersebut tidak hanya menimbulkan kekecewaan, tetapi juga secara langsung mengganggu aksesibilitas warga, khususnya di Dusun Maor, yang kesulitan melintasi area proyek akibat genangan material berlumpur tersebut pada Sabtu (6/12/2025) sore.
Salah seorang warga, yang enggan disebutkan namanya (inisial LSN), menyampaikan aspirasinya kepada awak media. Warga tersebut menyatakan apresiasi atas pembangunan yang dilakukan, namun sekaligus menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap kualitas pengerjaan.
“Kami tentu senang dengan adanya pembangunan, tetapi kami berharap prosesnya dilakukan dengan benar, apalagi dengan alokasi dana yang besar seperti ini,” ujar LSN. “Jika pengerjaan menggunakan material yang tidak semestinya—yang tampak seperti lumpur—kami khawatir daya tahan dan keawetan jalannya tidak akan maksimal seperti yang diharapkan.”
Pernyataan ini mengindikasikan adanya keraguan publik terhadap standar kualitas material yang digunakan, yang berpotensi memengaruhi kekuatan struktur jalan rigid beton dalam jangka panjang.
Menanggapi sorotan publik, Bayu Gunawan, selaku Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak) sekaligus Kepala Dusun Maor, membenarkan adanya material yang tampak seperti lumpur di lokasi. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan faktor cuaca.
“Memang benar. Karena kemarin sempat ada hujan, akhirnya menjadi becek,” kilahnya saat dikonfirmasi oleh media ini.
Penjelasan dari pihak Timlak ini memicu pertanyaan lebih lanjut mengenai standar pengelolaan material di lokasi proyek. Kondisi becek akibat hujan seharusnya dapat diminimalisir melalui langkah-langkah pencegahan dan penanganan material yang sesuai dengan spesifikasi teknik proyek infrastruktur.
Jika material yang digunakan dalam proyek di Desa Clebung benar-benar “mirip lumpur,” ini sangat mengindikasikan adanya pelanggaran serius terhadap standar agregat.
Kadar Lumpur Berlebihan,Material yang “mirip lumpur” berarti kandungan fines (butiran halus seperti lempung atau lumpur) melebihi batas toleransi (seperti yang disebutkan, biasanya sangat ketat untuk beton struktural).
Dampak Kualitas,Lumpur dan tanah liat sangat merugikan kualitas beton karena
Mengurangi Kekuatan,Menciptakan lapisan lemah di sekitar agregat, yang mengurangi ikatan semen dan menurunkan kekuatan tekan beton.
Meningkatkan Kebutuhan Air Lumpur menyerap air, mengacaukan rasio air-semen, yang merupakan kunci utama kekuatan beton (W/C Ratio). Rasio air yang terlalu tinggi menghasilkan beton yang rapuh.
Memperburuk Durabilitas Membuat beton lebih rentan terhadap retak, abrasi, dan kerusakan jangka panjang.
Penggunaan agregat atau material dasar yang terkontaminasi secara signifikan oleh lumpur atau tanah liat tidak sesuai dengan spesifikasi teknis jalan rigid beton dan sangat berpotensi menghasilkan kualitas konstruksi yang rendah dan tidak awet.
Dugaan penggunaan material yang dipertanyakan kualitasnya ini lantas memunculkan spekulasi mengenai lemahnya pengawasan dari dinas terkait. Dengan dana BKD yang mencapai Rp 4,4 miliar, proyek ini seharusnya menjadi contoh pelaksanaan pembangunan infrastruktur desa dengan standar tertinggi.
Ketiadaan pengawasan yang optimal dikhawatirkan memberi ruang bagi pihak pelaksana untuk menggunakan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis, berujung pada potensi kerugian kualitas dan ketidaksesuaian nilai proyek dengan dana yang dianggarkan.
Publik menantikan respons dan langkah konkret dari instansi berwenang di Kabupaten Bojonegoro untuk segera meninjau ulang dan memastikan bahwa seluruh material serta proses pengerjaan proyek BKD di Desa Clebung telah memenuhi standar yang ditetapkan.(Red)












