Sentilan “Putra Daerah”Menanti Taji Bojonegoro Mengakhiri Puasa Adipura

BOJONEGORO,Jawakini.com– Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup Kabinet Merah Putih, Hanif Faisol Nurofiq, di tanah kelahirannya pada Jumat (06/03/2026) bukan sekadar seremoni pulang kampung. Di balik aksi “Korve Kebersihan” yang dipusatkan di Pasar Wisata Bojonegoro, terselip pesan mendalam sekaligus tantangan keras bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Sampah Prioritas Negara, Bukan Sekadar Wacana

Dalam sambutannya di hadapan jajaran Forkopimda—mulai dari Bupati, Kapolres, hingga Kepala PN—Menteri Hanif menegaskan bahwa isu sampah kini berada langsung di bawah radar Kepala Negara. Penuntasan masalah ini tidak lagi bisa ditawar dengan sekadar koordinasi di atas kertas.

“Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten harus bergotong royong bersama-sama menggerakkan masyarakat untuk melakukan kegiatan penanganan sampah,” tegas Hanif.

Meski memuji niat Bupati untuk menjadi teladan, pernyataan Hanif tersebut secara tersirat menggarisbawahi adanya “kekosongan” gerakan masif di tingkat akar rumput yang selama ini mungkin belum terjamah secara optimal.

Romantisme Sejarah vs Realita Prestasi

Bojonegoro memiliki sejarah manis dalam urusan estetika kota. Catatan emas pernah terukir sepanjang 2012 hingga 2017, di mana trofi Adipura rutin singgah di Bumi Angling Dharma. Namun, kejayaan itu seolah menguap; absen panjang terjadi hingga tahun 2022, yang ironisnya menjadi kali terakhir penghargaan tersebut mampir. Kunjungan Menteri kali ini membawa misi besar Memutus rantai kegagalan tersebut.

Menuju Adipura 2026  Komitmen atau Sekadar Seremoni?

Harapan Menteri Hanif agar Bojonegoro memboyong Adipura di tahun 2026 merupakan “beban moral” sekaligus motivasi bagi SKPD dan masyarakat. Kehadiran seluruh elemen pimpinan daerah dalam kegiatan korve ini harus bertransformasi menjadi sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, bukan sekadar aksi bersih-bersih saat ada kunjungan pejabat pusat.

“Mari kita menjadikan Bojonegoro sebagai lingkungan terbaik bagi masyarakat,” pungkas Hanif.

Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Kabupaten. Apakah aksi di Pasar Wisata ini akan menjadi titik balik kembalinya supremasi kebersihan Bojonegoro, ataukah Adipura tetap akan menjadi kenangan manis di masa lalu? Masyarakat menanti bukti, bukan sekadar janji di sela kunjungan menteri.(BG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *