TUBAN, Jawakini.com – Pengusaha asal Tuban, H. Maksum, angkat bicara dan membantah keras tudingan yang menyebut dirinya melakukan aktivitas penambangan tanah liat ilegal di wilayah Kabupaten Tuban. Ia menegaskan bahwa aktivitas alat berat di lokasi tersebut murni merupakan kegiatan pemerataan lahan pertanian (cutting) atas permintaan warga setempat.
Menurut H. Maksum, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan lahan persawahan yang bergelombang agar lebih produktif, mempermudah sistem irigasi, serta mendongkrak hasil panen para petani.
”Itu bukan tambang. Kegiatan tersebut murni pemerataan tanah sawah atas permintaan petani supaya lahan lebih produktif dan hasil panennya bisa maksimal,” ujar H. Maksum saat dikonfirmasi media, Jumat (29/5/2026).
Selain membantah isu tambang ilegal, H. Maksum juga mengklarifikasi terkait rumor penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi untuk operasional alat berat di lokasi.
“Tidak benar kalau disebut memakai solar subsidi untuk tambang. Karena memang ini bukan aktivitas pertambangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh pengoperasian alat berat di lapangan dilakukan dengan pengawasan ketat serta mengedepankan aspek keselamatan kerja. H. Maksum pun menyatakan kesiapannya jika sewaktu-waktu instansi terkait melakukan peninjauan ke lokasi untuk memastikan legalitas dan kondisi riil di lapangan.
”Kami hanya membantu petani. Tujuannya supaya pertanian lebih baik dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Kami siap jika ada pemeriksaan dari instansi terkait untuk memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai ketentuan,” imbuhnya.
Petani Mengaku Terbantu
Klarifikasi H. Maksum tersebut senada dengan pengakuan para petani pemilik lahan. Jito, salah seorang warga setempat, mengaku justru merasa terbantu dengan adanya pemerataan tanah tersebut. Sebelum diratakan, kondisi sawahnya yang tidak menentu membuat distribusi air irigasi menjadi tidak merata.
”Dulu lahan saya tidak rata, jadi air sering tidak merata. Setelah diratakan, pengairan jadi lebih bagus dan hasil panen juga lebih melimpah,” ungkap Jito.
Ia berharap kegiatan yang membawa dampak positif bagi produktivitas pertanian warga ini tidak disalahartikan atau dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu sebagai aktivitas tambang liar.(BG)












