BOJONEGORO,Jawakini.com – Fenomena kerusakan dini menimpa proyek rehabilitasi jaringan irigasi sungai di Dusun Nemoni, Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Pasangan batu yang berfungsi sebagai penguat tanggul dilaporkan ambrol di sejumlah titik, padahal proyek ini masih dalam tahap pengerjaan.
Kejadian ini segera menarik perhatian publik dan memunculkan pertanyaan kritis mengenai standar kualitas konstruksi, metode pengerjaan, serta efektivitas pengawasan terhadap proyek yang didanai oleh APBD Tahun 2025 dengan total anggaran mencapai Rp 3.119.308.102.
Proyek yang dikerjakan oleh CV Nusa Utama Raya dengan konsultan pengawas CV. Graha H2S consultan dan berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Bojonegoro ini memiliki target penyelesaian 120 hari kalender, terhitung sejak 02 September 2025.
Kerusakan yang terjadi, di mana terlihat tumpukan batu yang berantakan dan longsornya tanah galian kembali ke saluran, dinilai sangat kontras dengan tujuan awal proyek untuk memperkuat jaringan irigasi. Kondisi ini memicu dugaan adanya penyimpangan teknis atau pengerjaan yang tidak sepenuhnya mengikuti rencana spesifikasi.
Warga setempat menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kondisi yang terjadi. Mereka khawatir anggaran besar yang digelontorkan untuk proyek ini tidak menghasilkan infrastruktur yang kuat dan tahan lama.
“Ini bukan sekedar masalah kualitas, tapi juga soal moralitas. Kemana anggaran yang seharusnya digunakan untuk membangun sungai yang kuat dan tahan lama?” Ucap HER, salah seorang warga, (24/11/ 2025, yang menduga adanya potensi praktik korupsi di balik pengerjaan yang dianggap asal-asalan.
Masyarakat Dander mendesak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk menunjukkan transparansi dan akuntabilitas penuh. “Kami ingin pembangunan yang kuat yang mengutamakan mutu, tidak asal-asalan,” ujar warga lain, menekankan perlunya pertanggungjawaban atas kegagalan proyek yang menggunakan dana rakyat.
Insiden ambrolnya irigasi di Dander menjadi catatan serius bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan dinas terkait. Masyarakat berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan pada setiap proyek pembangunan.
Pemerintah daerah dituntut untuk segera melakukan evaluasi teknis menyeluruh guna memastikan penyebab pasti kerusakan dan mengambil langkah korektif. Dengan mengutamakan mutu dan profesionalitas, kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pembangunan di Bojonegoro dapat terjaga.
Hingga berita ini dipublikasikan, awak media masih akan terus berupaya mendapatkan konfirmasi dan penjelasan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai penyebab ambrolnya proyek irigasi tersebut.(Red)












