BOJONEGORO,Jawakini.com– Deru mesin dan megahnya fasilitas produksi minyak di Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Kecamatan Gayam, Bojonegoro, menyimpan sebuah kontradiksi yang mendalam. Di balik statusnya sebagai salah satu tulang punggung ketahanan energi nasional, kawasan ini menyisakan persoalan klasik yang belum tuntas: tingginya angka pengangguran di kalangan warga lokal.
Kehadiran industri hulu migas berskala raksasa ini awalnya membawa angin segar dan ekspektasi tinggi bagi masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, harapan warga untuk mendapatkan lapangan pekerjaan di tanah kelahiran mereka justru kian meredup.
Bagi pemuda lokal, menembus barikade rekrutmen di industri migas saat ini terasa seperti misi yang mustahil. Soni (25), seorang pemuda asal Desa Mojodelik, menceritakan bagaimana dirinya harus bertahan dalam status pengangguran selama hampir satu tahun terakhir.
Ia memaparkan bahwa fase industri saat ini telah bergeser. Jika dulu pada masa konstruksi menyerap banyak tenaga kerja umum, kini operasional EMCL telah memasuki fase pemeliharaan (maintenance).
“Sekarang sudah tidak ada pekerjaan lagi yang bisa dimasuki masyarakat umum. Yang dibutuhkan tenaga dengan skill khusus karena sudah masuk tahap pemeliharaan,” tutur Soni.
Ironisnya, di tengah keterbatasan serapan industri migas, alternatif lapangan kerja di sektor lain di wilayah Gayam juga tergolong minim. Soni menyayangkan belum adanya terobosan nyata, baik dari korporasi maupun pemerintah desa setempat, untuk menciptakan pusat-pusat ekonomi baru yang mampu memberdayakan pemuda.
Kisah serupa dialami oleh Sholeh, warga Desa Ringintunggal. Ketiadaan mata pencaharian tetap di tengah tuntutan kebutuhan hidup yang terus berjalan memaksanya mengambil langkah pragmatis yang berat.
“Kerja tidak ada. Utang terus bertambah karena kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi,” ungkap Sholeh dengan nada getir.
Bagi Sholeh dan banyak kepala keluarga lainnya di ring satu operasional migas, kilauan investasi bernilai triliunan rupiah di dekat rumah mereka terasa berjarak dengan realitas dapur mereka yang sulit mengepul.
Kondisi di Kecamatan Gayam ini memicu kritik atas efektivitas program pemberdayaan masyarakat yang selama ini digulirkan. Warga menilai keberadaan proyek strategis nasional ini belum berhasil menekan angka kemiskinan dan pengangguran secara signifikan di wilayah terdampak langsung.
Masyarakat mendesak adanya sinergi yang lebih agresif antara EMCL dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Program-program seperti pelatihan keterampilan bersertifikasi internasional dan diversifikasi ekonomi berbasis potensi lokal dinilai mendesak untuk dilakukan, agar warga tidak sekadar menjadi penonton di tanah yang kaya minyak.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi yang dilakukan kepada Humas EMCL, Toya Mustika, melalui pesan singkat WhatsApp pada Selasa (9/6/2026), belum mendapatkan respons.
Senada dengan pihak perusahaan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan dan aspirasi yang disuarakan oleh warga Gayam.
Bungkamnya para pemangku kebijakan ini membiarkan pertanyaan besar masyarakat tetap menggantung di udara. Bagi warga Gayam, keberhasilan sebuah proyek negara semestinya tidak hanya diukur dari berapa ratus ribu barel minyak yang berhasil disedot per hari, melainkan dari seberapa besar industri tersebut mampu mengangkat derajat kesejahteraan manusia yang hidup di atasnya.(BG)












