Bojonegoro,Jawakini.com – Kritik ibarat cermin yang menunjukkan sisi diri yang tidak terlihat dan dapat membantu mengenali kelemahan dan kesalahan diri tanpa harus merasa dihakimi. Contructive criticism akan menjadikan seseorang keluar dari zona nyaman, terutama jika kritik datang dari sahabat atau orang yang levelnya secara keilmuan dan pengalaman berada di atas kita.
Di era digital dan perkembangan medsos yang masif, terkadang saudara kita mengkritik juga memanfaatkan media ini. Ada dua pertanyaan, bisa dimungkinkan karena tidak ada ruang yang dapat keduanya bertemu atau karena kesibukan yang dialami keduanya.
Constructive criticism yang dilontarkan Dino Patti Jalal, seorang yang secara akademis dan pengalaman diplomatis terhadap keseringan kepala negara berkunjung ke luar negeri ditengah negara yang menuntut evisiensi, bisa jadi sebuah analisis akademis tentang makna penting dan tidaknya, bisa juga karena tidak terbukanya kran dialogis formal, atau sebagai bukti kecintaannya pada kepala negara dan negaranya tentunya.
Namun rupanya Constructive criticism ini terlihat seperti salah umpan. Dino sepertinya tidak sedang memberi umpan bola itu kepada pemain yang handal layaknya pesepak bola handal. Hingga tak hayal, ball control pun tidak mengenai sasaran, hingga bola itupun melenceng mengenai pantatnya. Alhasil hanya berbuah bau kentut yang baunya anyir melambung ke udara dan menyelinap di berbagai sudut ruangan negeri medsos.
Mestinya bagi pesepak bola handal, ia akan mampu melakukan ball control yang dapat menjadi self correction agar dapat bermain cantik, agar kesebelasan itu mampu mencetak gol dengan sempurna, dan tentu tepuk tangan meriah yang lahir dari kegembiraan hati yang muncul, dan bukan riuh tepuk tangan yang bernada meledek.(red)
M. Yazid Mar’i ,Sekretaris KSK tinggal di Bojonegoro, 6 Juni 2026












