JAWA TIMUR

Pemuda Muhammadiyah Jatim Siap Kawal Program Pembangunan Khofifah-Emil

Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak.

Jawakini.com, Surabaya – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur siap mengawal program pembangunan yang dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak.

“Ini sebagai bentuk kritis dalam mengawal pembangunan demi kesejahteraan masyarakat,” kata Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur Dikky Syadqomullah kepada wartawan di Surabaya, Kamis (14/2/2019).

Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah berlatar belakang generasi milenial, pihaknya juga menegaskan dukungan setiap kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan dan kemajuan bagi masyarakat Jatim.

Kepada Khofifah dan Emil yang baru sehari dilantik, Pemuda Muhammadiyah mengucapkan selamat dan berharap kepemimpinan baru mampu membawa Jatim menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Dikky Syadqomullah yang juga baru beberapa hari terpilih memimpin Pemuda Muhammadiyah Jatim menitipkan sejumlah harapan, salah satunya terkait dengan Program Keluarga Harapan (PKH) yang pernah dijalankan Khofifah sebagai Menteri Sosial sebagai solusi permasalahan sosial masyarakat.

“PKH akan menjadi percuma jika kesadaran dan tanggung jawab untuk mengentaskan masyarakat dair kemiskinan secara suprastruktur tidak dibangun oleh Pemprov Jatim,” ucapnya.

Selain itu, aktivis sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 6 Surabaya itu menginginkan pemerintah serius menggerakkan potensi anak muda kreatif.

“Kemudian juga menggerakkan `startup` dan industri kreatif yang dilakukan oleh kelompok milenial sehingga meningkatkan kompetitif anak muda Jatim agar siap mengarungi era pasar bebas,” kata dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut.

Ia juga berharap Khofifah-Emil harus mampu membangun kultur kolektif dengan semangat Jatim untuk semua.

Menurut dia, jalannnya roda pemerintahan sangat bergantung pada iklim kondusif masyarakat Jatim dengan cara mampu menyisihkan simbol dan ego pendukungnya agar tidak terjadi konflik horizontal yang justru menjadi penghambat jalannya pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat. (fiq)