OPINI

Ironisnya Konsumen Kita

Oleh : Agus Adi Priyanto

KITA sering bingung melihat masyarakat di sekeliling kita terutama di Kabupaten Cilacap, sambutannya kepada saudara terutama pengusaha muslim. Satu sisi masyarakat mendambakan tumbuh kembangnya pengusaha muslim dalm mengelola bisnisnya, sisi lain kita menjumpai perilaku masyarakat tidak mendukung saudara kita dan pengusaha muslim dalam pengembangan usahanya, yang dimaksud perilaku antagonis satu kepentingan dengan kepentingan lainnya yang semuanya memakai payung religius muslim.

Agama sering dijadikan alasan untuk bernegosiasi, di jadikan lipes sevice supaya sisi rasional bergeser ke sisi emosional. Dengan sentimen agama yang di sentuhnya, mereka berharap pada sesama yang kebetulan beda nasib.

Dijumpai sekeliling kita di Cilacap ini, membeli atau belanja ke produk ke teman dan atau saudara seiman meminta discount besar, di bayar tempo dan tidak sedikit minta di cicil. Di sisi lain belanja di supermarket besar atau di Alfamart di Indomart tidak segan membayar tunai.

Kita tidak segan-segan menuntut kepada saudara dan tetangga kita yang menjual sayuran dorong atau “digendong” dengan permintaan yang membuat bisnisnya kadang di relakan untuk tidak untung, padahal secara ekonomi kita lebih mampu dibanding mereka.

Koperasi yang katanya sebagai soko guru bangsa ini sering dimanfaatkan ketika tanggung bulan gajian dan tidak punya uang yang pada akhirnya banyak koperasi yang tidak berkembang bahkan gulung tikar.

Contoh lain dari perilaku diskriminatif kita ketika mau makan di Mc Donald atau makanan cepat saji sejenisnya, antri bayar dulu baru makan, harus keluar uang dulu baru dilayani mendapatkan produk yang kita inginkan, kita sering melihat hal itu ketika perantau masyarakat Cilacap dengan “bangga” mengupload di akun facebook dan jejaring media sosial mereka.

Sementara ketika makan diwarung padang atau warteg misalnya, makan puas dulu baru bayar.

Pertanyaannya : kenapa semua itu mesti terjadi di Cilacap? Yang pasti tak mungkin terjadi sesuatu akibat tanpa penyebabnya. Semua pasti ada sebab musababnya dan apa sebab semua itu terjadi?

Agus Adi Priyanto Adalah, Jurnalis Jawakini.com