POLITIK

Syafii Antonio Setuju Konsep Balon Gubernur Jabar Agung Suryamal

Jawakini.com, Bogor – Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat, Agung Suryamal, menyatakan siap bertarung mencalonkan diri menjadi Gubernur maupun Wakil Gubernur Jabar dalam Pilkada serentak 27 Juni 2018. 

Kehadiran Agung di kancah politik ini tentu saja bisa menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat Jabar. Pasalnya Agung muncul mewakili para pelaku usaha/industri, pengusaha, wiraswasta, atau masyarakat yang berkepentingan dengan ekonomi.

“Saya memang didorong oleh kawan-kawan pengusaha di Jawa Barat. Sebab dalam sejarahnya selama ini gubernur Jawa Barat dari kalangan TNI sudah, seniman sudah, birokrat sudah, sipil sudah. Dari pengusaha belum,” ungkapnya.

Agung mengaku, dirinya sudah melakukan komunikasi intensif dengan para inohong partai politik. “Dengan pak Prabowo, pak SBY, Presiden PKS Sohibul Iman sudah. Alhamdulillah hasilnya baik,” katanya.

Sementara soal target posisi, Agung mengaku akan bersikap realistis. “Apakah harus jadi D1 (gubernur, red) atau D2 tidak masalah,” ujarnya.

Seperti diberitakan, nama Agung Suryamal sendiri bukan lagi figur baru di Jabar. Sebab, berdasarkan survei yang dilakukan Fokus Survei Indonesia (FSI), Agung Suryamal masuk di posisi enam calon paling dikenal masyarakat Jabar.

Hasil survei FSI memosisikan Deddy Mizwar dengan tingkat popularitas 93,7 persen, artis yang juga anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka 85,1 persen, dan posisi ketiga Dede Yusuf dengan popularitas 81,7 persen. Sementara, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menempati posisi 4 dalam tingkat kepopuleran sebesar 67,9 persen.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meraih tingkat popularitas sebanyak 64,7 persen, Agung Suryamal yang dikenal sebanyak 54,1 persen, dan Iwa Karniwa 53,4 persen. Lalu, pada urutan terakhir ada nama Netty Heryawan dengan tingkat popularitas 52,1 persen.

Dari sisi visi misi, Agung Suryamal cukup fokus dengan mengusung konsep Jihad Ekonomi. Konsep yang diusungnya ini mendapat respons positif masyarakat, di antaranya cendikiawan muslim Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.

Syafii Antonio mengatakan, konsep Jihad Ekonomi yang dibawa Agung Suryamal sejalan dengan konsep pengentasan kemiskinan. Ia memandang pengentasan kemiskinan di Jabar menjadi hal yang sangat mendesak untuk segera dituntaskan. Kemiskinan masuk dalam skala prioritas pekerjaan rumah bagi Jabar. 

“Jihad ekonomi sudah sangat-sangat tepat ya, kita harus keluar dari kemiskinan, keluar dari pengangguran, keluar dari ketidakberdayaan. Diibaratkan dengan perang, kemiskinan itu adalah musuh yang harus benar-benar kita babad. Nah makanya, program Jihad Ekonomi, cocok sekali. Bahwa business itu adalah ibadah, karena kita mencari bisnis yang halal, mencari rejeki itu fardhu setelah shalat yang fardhu. Begitu banyak nas nas Islam yang menyebutkan begitu buruk dampak dari kemiskinan terhadap kehidupan baik terhadap akidah, secara pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sandang, pangan, papan dan lain sebagainya. Nah, untuk keluar dari keterpurukan itu harus ada upaya yang sungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh dalam Islam itulah yang disebut Jihad, dan itu bukan saja mengangkat senjata. Bisnis itu juga Jihad karena butuh perjuangan, perlu strategi, perlu siasat, taktik, perlu teamwork. Kan Jihad itu tidak sendirian, harus ada teman di belakang, di depan, dan harus bagi tugas. Bisnis yang berhasil itu bisnis yang dikoordinasikan ibarat kita sedang mengatur infanteri saat berperang. Perlu persiapan intelektual dan fisik yang tidak ringan. Kita harus cerdas menghitung kekuatan lawan. Kita harus cerdas menghitung kekuatan kita. Di mana kelemahan lawan, dimana kelemahan kita,“ ungkap Syafii, saat bertemu dengan Agung Suryamal belum lama ini di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor.

Lebih lanjut Syafii mengatakan, dampak buruk dari kemiskinan sangat luas. Syafii menilai perlu sosok pemimpin ke depan yang memiliki kemampuan managerial dan kemampuan entrepreneur (kewirausahaan).

“Untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan ekonomi dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki seorang pemimpin yang real manager, yang punya managerial skill yang tinggi, kemudian memiliki kemampuan berkorban untuk dirinya demi mencapai satu visi yang besar untuk masyarakatnya, kemudian dia harus memiliki kemampuan mengakomodasi komponen-komponen yang ada di masyarakatnya. Di Indonesia yang dibutuhkan adalah kepemimpinan sipil yang memiliki kemampuan managerial dan enterpreneuriil. Kenapa enterpreuneuriil, karena banyak potensi daerah yang sesungguhnya dapat dikembangkan tetapi tidak akan bisa (dilakukan) jika ia birokrat murni, jadi tidak bisa melihat peluang. Misal jika ada produk (di daerahnya) kalau birokrat itu berfikirnya ini boleh tidak, boleh tidak. Tapi kalau ada produk bagaimana dibuat expo, bagaimana mengemasnya, bagaimana mendatangkan turis yang banyak, itu dibutuhkan kemampuan entrepreneur, jadi yang cocok menjadi pemimpin ke depan adalah sipil, memiliki managerial kompetensi yang baik, memiliki kemampuan entrepreneur dan dia bisa mengakomodasi komponen-komponen masyarakat yang ada disitu. Tapi karena sudah menjadi milik khalayak dan umat, dia harus bisa mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya terlebih dahulu,” beber Syafii. (cep)