KULTURAL

Pemberontakan PETA Gumilir 21 April 1945 (Bagian 3-Habis)

Oleh : Agung Lindu Nagara

KUSAERI ditinggal seorang diri oleh pasukan dan kawan-kawannya, ia pun berniat meneruskan perjalanan ke Gunung Srandil, mungkin yang di maksud Perbukitan Selok tempat markas tentara Jepang berada.

Akan tetapi niatnya ke daerah Selok terhalang Serayu yang sedang banjir. Ia pun memilih beristirahat di gubuk yang berada pada suatu ladang dekat sungai tersebut, seperti dikutip Fokuscilacap.com.

Dua hari berdiam di gubuk, 23 April 1945 ia pun memasuki rumah sepasang suami isteri yang berusia lanjut di Desa Adipala.

Kala itu Desa Adipala menjadi perkampungan mati karena ditinggalkan warganya menghindari kekejaman pasukan Jepang.

Pada 25 April 1945, Kusaeri memutuskan keluar dari rumah untuk menuju Selok. Nahas, ternyata kediaman kakek dan nenek tersebut sudah dikepung ratusan prajurit Jepang.

Niatnya melawan diurungkan saat melihat gurunya yakni Kyai Bugel diikat oleh orang-orang Jepang. Kusaeri lantas ditangkap dan dibawa ke markas Kempetai di Cilacap menggunakan sedan.

Selama 15 hari, ia diinterogasi secara maraton oleh juru bahasa. Tepat 10 Mei 1945 bersama 18 kawannya, ia diangkut ke Jakarta untuk menjalani sidang mahkamah militer Jepang.

Nasib mereka sangat menyedihkan, selama 40 hari dalam tahanan, setiap pagi dipaksa duduk bersila menghadap tembok maupun menatap matahari secara langsung.

Makanan yang diberikan hanya setengah cangkir bubur. Banyak kawan Kusaeri yang menderita lumpuh karena kondisi tersebut.

Persidangan memutuskan hukuman mati bagi Kusaeri sedangkan rekan-rekannya dijatuhi vonis 15 tahun hingga pidana kurungan seumur hidup.

Ternyata, Tuhan Yang Maha Esa masih berkenan melindungi nyawa Kusaeri dan kawan seperjuangannya, sebelum hukuman mati diberlakukan, perang Pasifik berakhir dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Pasca 17 Agustus 1945, PETA dibubarkan, semua tahanan Jepang lantas dikembalikan ke daerah asal. Kusaeri dan rekannya kembali ke Cilacap menggunakan kereta api.

Demikian sekelumit kisah heroisme Kusaeri seperti dikutip dari Arsip Dinas Sejarah Militer Kodam VII Diponegoro atau sekarang Kodam IV Diponegoro yang diterbitkan Maret 1976. (Selesai)

Penulis Adalah Koordinator Liputan Fokuscilacap.com.