NASIONAL

Menristekdikti Minta Kedepankan Kualitas Dalam Pendidikan

Jawakini.com, Kesugihan – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, perguruan tinggi swasta dan negeri memiliki kualitas yang sama bagus terutama setelah ada pembinaan terhadap ratusan kampus yang dinonaktifkan.

Menurutnya, Indonesia memiliki 124 Perguruan Tinggi Negeri dan 4.225 Perguruan Tinggi Swasta, satu diantaranya IAIIG dan UNUGHA. IAIIG dan UNUGHA adalah kampus yang bagus. “Jadi dikotomi swasta dan negeri itu tidak ada sekarang. Yang ada masalah kualitas. Kompetisi dan kualitas harus didorong agar nantinya PTS bersaing tidak hanya dengan sesama PTS, tetapi juga negeri bahkan universitas luar negeri,” kata Menteri Nasir saat hadir di Kanpus Universitas Nahdatul Ulama Al Ghozali (Unugha), Kesugihan, Cilacap, seperti dikutip Fokuscilacap.com, Selasa (5/4)

Nasir mengatakan, masyarakat seharusnya tidak lagi memandang perguruan tinggi swasta (PTS) memiliki kualitas lulusan yang lebih rendah dari perguruan tinggi negeri (PTN). Untuk itu pihaknya berharap tim pembinaan akan menghasilkan perguruan tinggi swasta yang dapat menarik minat pasar calon mahasiswa baru dengan adanya pemeringkatan dan akreditasi.

“Ada lulusan dari PTS yang ternyata bisa dapat pekerjaan lebih baik, sedangkan dari PTN kurang baik. Berarti ada sesuatu yang salah. Kita perbaiki dari kualitasnya melalui pengawasan, pengendalian dan pembinaan,” jelasnya.

Nasir menegaskan bahwa tidak ada pembinasaan terhadap PTS yang tidak memenuhi standar kelayakan, melainkan pembinaan untuk menata pendidikan tinggi negara. Ia mencatat dari 243 perguruan tinggi yang bermasalah atau tidak memenuhi parameter kampus “sehat”, ada 104 perguruan tinggi yang diaktifkan kembali dengan dilakukan pembinaan, sedangkan 103 perguruan tinggi telah dicabut izinnya karena beberapa alasan.

“103 (kampus) sudah kami cabut izinnya karena permintaan dari yayasannya. Sudah dua tahun tidak ada mahasiswanya daripada menjadi beban, mereka (pemilik yayasan) meminta agar ditutup saja,” ujar mantan Rektor Universitas Diponegoro tersebut.

Asosiasi BP PTSI menyebutkan ada sembilan masalah yang menyebabkan perguruan tinggi tersebut dinonaktifkan, yakni konflik internal dan eksternal, pengessahan yayasan oleh Kemenkumham dan kelas jarak jauh tanpa izin dan rasio dosen mahasiswa dan dosen tetap yang tidak berimbang. Selain itu, sarana dan prasarana, masalah proses belajar mengajar, masalah pangkalan data pendidikan tinggi (PD Dikti) dan masalah manajemen di dalam kampus.

Menurutnya, menghadapi Asean Economical Comunity, tantangannya bagaimana untuk menyiapkan Sumbe Daya Manusia yang berkualitas sebagai SDM yang baik, menuju SDM yang memiliki daya saing. Karena globalisasi yang dihadapi saat ini adalah era kompetisi, sehingga harus mampu memghadapi persaingan. “Tantangannya, bagaimana SDM yang ada dimappingnya. Dosennya bagaimana? Mana yang bisa kita dorong jadi Doktor. Di Cilacap ada PLTI, Pertamina, Holcim. Ajak mereka untuk ngajar di Fakultas Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro. Ini tergantung kreatifitas rektor, dan kalau itu dilakukan, kita punya competitivness di dunia global,” terangnya. (fkh/fkc).